Kopi 'Kekinian' dan Delivery Online Dongkrak Bisnis Waralaba

CNN Indonesia | Sabtu, 06/07/2019 15:39 WIB
Kopi 'Kekinian' dan Delivery Online Dongkrak Bisnis Waralaba Salah satu franchise kopi 'kekinian'. (CNN Indonesia/Joy Natasha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyebut bisnis kopi dan kue 'kekinian' menjadi salah satu pendongkrak industri waralaba di Tanah Air pada tahun ini. Begitu juga dengan maraknya tren jasa pengiriman makanan dalam jaringan (delivery online), seperti Go-Food dan Grab Food.

Ketua Umum AFI Andrew Nugroho mengatakan hal ini terlihat dari pesatnya pembukaan gerai-gerai kopi dan kue 'kekinian' di berbagai sudut kota. Gerai-gerai itu tak hanya buka di pusat perbelanjaan, tetapi juga di pinggir-pinggir jalan.

"Tahun ini paling banyak makanan dan minuman, mungkin karena untuk orang memulai jualan kopi, kue, lebih gampang jadi banyak yang buka," ucap Andrew di Jakata, Jumat (5/7).

Menurutnya, tren kopi dan kue 'kekinian' juga membuat jumlah pemain di dalam negeri bertambah. Namun, menurut dia, mayoritas masih menganut sistem kemitraan (Business Opportunity/BO) yang lebih informal ketimbang waralaba yang sudah lebih ketat perjanjian bisnisnya.

Berdasarkan data sementara asosiasi per Juni 2019, jumlah kemitraan sudah mencapai 2 ribu pemain. Sementara jumlah waralaba lokal hanya mencapai 120 pemain. Dominasi bisnis waralaba di Indonesia masih dipegang oleh asing yang mencapai 480 pemain.



Ia mengatakan waralaba asing di Tanah Air didominasi oleh bisnis dari negara-negara Asia, seperti Singapura, Taiwan, Korea, dan Hong Kong. Kemudian negara maju, seperti Amerika Serikat.

Selain sektor makanan dan minuman, menurut dia, sektor jasa pendidikan, seperti kursus juga cukup bergairah. "Minimarket juga tetap banyak, masih populer. Intinya, Indonesia pasarnya besar sekali, semua masuk," ungkapnya.

Oleh karena itu, Andrew cukup optimis bisnis waralaba di Indonesia bisa tumbuh di kisaran 10 persen pada tahun ini. Angka pertumbuhan itu lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang berkisar 5 persen sampai 6 persen.

Adapun Ia memperkirakan pertumbuhan waralaba asing di dalam negeri bisa mendongrak sekitar 3 persen sampai 4 persen pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia secara keseluruhan.

"Misalnya di acara saat ini, kami dikunjungi oleh asosiasi franchise dari Filipina, Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, dan lainnya. Mereka bisa lihat konsep dan bawa peluangnya," katanya.


Ia pun meramal transaksi perjanjian bisnis para waralaba bisa mencapai Rp800 miliar pada pameran tahun ini. Angka tersebut meningkat sekitar 30 persen dari tahun lalu sekitar Rp600 miliar.

Di sisi lain, menurut dia, perkembangan bisnis waralaba dari pemain lokal di luar negeri juga cukup menjanjikan. Saat ini setidaknya ada beberapa waralaba lokal yang sukses di sejumlah negara tetangga, seperti JCo, Kebab Baba Rafi, dan Es Teler 77.

Selain tren kopi dan kue 'kekinian', Andrew mengatakan pertumbuhan bisnis waralaba juga ditopang oleh tren delivery online, seperti Go-Food dan Grab Food. Apalagi, katanya, ada perubahan pola konsumsi masyarakat yang semula suka berbelanja langsung ke pusat perbelanjaan, kini dilakukan dari rumah.

"Penjualan (waralaba) justru bertambah dengan adanya pesanan dari rumah dan kantor. Mungkin bisa sampai 15 persen penambahan dari online order," katanya.
Tantangan


Kendati pertumbuhannya cukup menjanjikan, Andrew menyebut masih banyak tantangan dalam industri ini. Salah satunya, menurut dia, skema kemitraan yang masih mendominasi bisnis waralaba sejatinya memiliki skema bisnis yang belum benar-benar matang.

Kemitraan, menurut Andrew, bisa langsung ditawarkan hanya dalam kurun waktu satu sampai dua tahun bisnis berjalan. Padahal, idealnya bisnis waralaba ditawarkan saat sudah berjalan di atas 3 tahun.

Akibatnya, ada hal-hal yang belum terstruktur dengan baik, seperti penggunaan bahan baku.

"Jumlah gerainya tidak banyak sih. Lalu legalnya (waralaba) tidak bisa pakai nama perjanjian atas nama per orangan (berbeda dengan kemitraan)," ungkapnya.


Selain itu, menurut dia, para pelaku waralaba yang saat ini terdaftar resmi di Kementerian Perdagangan masih cukup minim. Hal ini ditandai dengan pengurusan izin Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW).

"Mungkin ini karena kadang mereka masih baru, jadi mereka ragu-ragu, masih ingin coba-coba. Maka kami harap juga banyak pengarahan dari Kemendag," tuturnya.

Ketua Kehormatan AFI Anang Sukandar turut menambahkan, sistem kemitraan sejatinya memberikan tantangan karena dianggap sebagai bentuk usaha yang cukup terburu-buru untuk terjun ke skema waralaba. "Padahal franchise itu sebenarnya harus matang," imbuhnya.

Kendati begitu, keduanya berharap perkembangan kemitraan bisa lebih banyak memberikan dampak positif bagi industri ini. Untuk itu, perlu pembinaan dan masukan dari berbagai pihak, baik sesama pemain, asosiasi, hingga pemerintah. (uli/agi)