Luhut soal Harga Garam Jatuh: Saya Belum Tahu Penyebabnya

CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 20:40 WIB
Luhut soal Harga Garam Jatuh: Saya Belum Tahu Penyebabnya Ilustrasi garam. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengaku belum mengetahui penyebab jatuhnya harga garam konsumsi. Namun, ia berjanji akan mencari tahu penyebab harga garam jatuh hingga 50 persen.

Diketahui, harga garam konsumsi di tingkat petambak jatuh ke posisi Rp400 per kilogram (Kg). Harga garam normal sejatinya berkisar Rp750-Rp800 per Kg.

"Kami sedang melihat itu (jatuhnya harga garam) apakah karena impor atau apa. Saya belum tahu (penyebabnya)," ujarnya, Rabu (10/7).

Ketika disinggung soal kualitas garam, ia mengklaim kualitas garam mulai membaik dengan peningkatan produksi garam industri.


Untuk diketahui, petambak memiliki keterbatasan dalam menyediakan garam industri dengan kandungan NaCl antara 95 persen hingga 97 persen. Sebab, garam konsumsi yang dihasilkan petambak hanya memiliki kadar NaCl sebesar 94 persen. Akibatnya, penyerapan garam konsumsi hanya terbatas pada sektor makanan dan minuman.

"(Kualitas garam) membaik karena kita sudah banyak yang produksi garam industri," imbuh Luhut.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Persatuan Petambak Garam Indonesia (PPGI) Waji Fatah Fadhilah mengeluhkan jatuhnya harga garam konsumsi hingga 50 persen. Ia mengatakan harga garam dari petambak di Kecamatan Krangkeng, Indramayu, hanya Rp400 per Kg dari harga normal di kisaran Rp750-Rp800 per Kg.
[Gambas:Video CNN]
Menurut dia, anjloknya harga garam konsumsi karena rendahnya penyerapan oleh PT Garam (Persero), industri makanan dan minuman, maupun pembeli lokal.

PT Garam biasanya menyerap 20 ribu ton-50 ribu ton garam pada periode Juni-Juli yang bertepatan dengan masa panen. Namun, hingga kini perusahaan pelat merah itu belum juga menyerap garam rakyat.

"Yang jelas penyerapan agak lambat, mungkin karena ada sisa impor garam. Jadi masih banyak persediaan, sehingga garam di petani tidak terserap," katanya kepada CNNIndonesia.com.


(ulf/bir)