Pemerintah Akui Tiket Pesawat Mahal 'Pukul' Ekonomi Kuartal I

CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 12:09 WIB
Pemerintah Akui Tiket Pesawat Mahal 'Pukul' Ekonomi Kuartal I Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Lucky R)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Koordinator bidang Perekonomian mengakui tarif tiket pesawat terbang yang mahal turut menghambat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I lalu. Jika tarif tiket tak melonjak, pertumbuhan ekonomi seharusnya bisa lebih dari 5,07 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 mencapai 5,07 persen, hanya naik tipis dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,06 persen.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan sejauh ini masyarakat hanya paham bahwa tiket pesawat berpengaruh ke tingkat kenaikan harga barang dan jasa (inflasi). Namun, sektor riil sebenarnya juga terpukul dengan kondisi tersebut.

Ia mencontohkan, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) sempat mengeluhkan turunnya perjalanan ke destinasi pariwisata domestik. Padahal, pariwisata mempunyai efek penggada (multiplier effect) yang cukup kuat ke perekonomian, di antaranya melalui sektor usaha oleh-oleh.


"Kami tidak mau menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi seharusnya berapa jika tarif pesawat tidak naik, tapi memang menurut perhitungan kami, pertumbuhan ekonomi seharusnya bisa lebih dari 5,07 persen," jelas Susiwijono, Rabu (10/7).

Tak hanya soal pariwisata, tiket pesawat yang mahal juga menyulitkan proses birokrasi. Para kepala daerah yang bertugas ke Jakarta, menurut dia, kini terus mengeluhkan tarif pesawat yang mahal.

"Makanya kenapa pemerintah sangat concern sekali dengan tarif pesawat ini. Karena bukan hanya aspek ekonomi makro, tapi beberapa pemda juga sudah mengeluh ke kami," tutur dia.

Maka dari itu, ia berharap kebijakan tarif diskon 50 persen di jam-jam tertentu pada Selasa, Kamis, dan Sabtu ini bisa kembali menggiatkan sektor riil. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi bisa menguat kembali di paruh kedua tahun ini.


Ia mengakui proses pembuatan kebijakan ini memakan waktu yang cukup panjang lantaran kalkulasi yang terbilang rumit. Namun, pemerintah akhirnya bisa mencari celah dari jam penerbangan yang memiliki frekuensi penumpang lebih sedikit dari biasanya (low hours).


"Dan hasilnya kami sudah sepakati bahwa ada 62 rute Citilink yang bisa memperoleh tarif diskon dan 146 rute Lion Air yang mendapatkan kebijakan serupa," lanjut dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menduga kenaikan tiket pesawat jadi biang keladi pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya 5,07 persen. Pengaruh tersebut tercermin dari pertumbuhan konsumsi masyarakat yang hanya tumbuh 5,01 persen.

Menurut dia, pertumbuhan konsumsi masyarakat untuk transportasi dan komunikasi hanya 4,91 persen di tahun ini atau melambat dibanding tahun sebelumnya 4,96 persen. Kemudian, konsumsi restoran dan hotel juga melambat dari 5,64 persen di tahun lalu menjadi 5,42 persen.

[Gambas:Video CNN]

Ia bilang, hal tersebut tak lepas dari kenaikan harga tiket pesawat yang menjadi momok sejak awal tahun ini. Kenaikan tarif pesawat, lanjut dia, juga mempengaruhi jumlah pengguna pesawat domestik pada kuartal I.

Adapun, BPS mencatat total penumpang pesawat domestik Januari hingga Maret tahun ini di angka 18,32 juta orang, atau turun 17,66 persen dari tahun sebelumnya 22,25 juta orang.

"Dan kami juga mencatat tingkat hunian kamar juga turun, sehingga tiket pesawat yang mahal berkontribusi ke penurunan konsumsi tersebut," kata Suhariyanto. (glh/agi)