IMF Beri Pinjaman US$6 Miliar untuk Pakistan

CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 12:33 WIB
IMF Beri Pinjaman US$6 Miliar untuk Pakistan Ilustrasi. (REUTERS/Akhtar Soomro).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan paket pinjaman tiga tahun senilai US$6 miliar untuk Pakistan. Pinjaman itu akan digunakan IMF untuk mengendalikan kenaikan utang dan mencegah krisis neraca pembayaran yang membayangi Pakistan.

Mengutip Reuters, Kamis (4/7), pencairan pinjaman akan dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal, dewan eksekutif IMF akan mencairkan sekitar US$1 miliar. Sedang sisanya akan disalurkan selama periode program, yaitu tiga tahun, yang dikaji setiap kuartal.

"Pakistan menghadapi tantangan ekonomi, di tengah kebutuhan fiskal dan keuangan yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang lemah dan tidak seimbang," terang Wakil Direktur Pelaksana David Lipton dalam keterangan resmi.

Program IMF, lanjut dia, mensyaratkan rencana tahunan Pakistan untuk memperkuat fiskal dan sistem pajak mereka yang terkenal lemah, serta reformasi skala besar di bawah Pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan.


Sebagai informasi, Khan berkuasa pada Agustus lalu. Ia mendapat warisan ekonomi yang bermasalah dalam kepemimpinannya. Awalnya, ia enggan meminta bantuan ke IMF, yang telah menyediakan lebih dari 20 paket dana talangan (bailout) ke Pakistan selama beberapa dekade.

Namun, meskipun mendapatkan pinjaman miliaran dolar dari negara-negara sahabat, termasuk China, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, meningkatnya hambatan ekonomi memaksa Pemerintahan Khan berbalik arah ke bantuan IMF.

Harap maklum, masalah Pakistan tidak kecil. Negara ini menghadapi cadangan devisa yang susut menjadi hanya US$7,3 miliar, dan defisit anggaran diperkirakan lebih dari 7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini.

Ekonomi Pakistan didominasi oleh pertanian dan tekstil. Namun, sektor informal besarnya banyak yang tidak membayar pajak. Bahkan, Pakistan telah habis-habisan mengucurkan uang demi mempertahankan mata uangnya yang terus melorot.
[Gambas:Video CNN]


(Reuters/bir)