Angka itu sama seperti target indikatif penerbitan surat utang sebelumnya, yakni SBR006. Instrumen itu diterbitkan pada April 2019 lalu.
"Target masih sama. Ini kan penerbitan beberapa kali ya ada berbagai macam produk, ada konvensional dan sukuk. Target masih sama Rp2 triliun," ucap Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman, Kamis (11/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Skemanya floating with the floor. Artinya, kalau suku bunga Bank Indonesia naik itu akan disesuaikan juga. Tetapi, kalau suku bunga turun ada batasan di 7,5 persen," terang Luky.
"Kalau dulu SBR006 jumlah mitra distribusi hanya 14, sekarang kami perluas kerja sama dengan 20 mitra distribusi," tutur Luky.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah perbankan yang menjadi mitra distribusi, misalnya PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk.
Kemudian, perusahaan sekuritas yang bisa melayani pembelian SBR007 adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Bahana Sekuritas.
Surat utang ritel ini jatuh tempo pada 10 Juli 2021 mendatang. Nantinya, pembayaran kupon akan dilakukan setiap tanggal 10 dengan pembayaran kupon pertama kali pada 10 September 2019. (aud/bir)