Direktur Jenderal Sumber Daya Air PUPR Hari Suprayogi mengatakan sebanyak 12 provinsi yang telah disiapkan, yakni Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua Barat, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Jawa Timur.
"Upaya antisipasi kekeringan dengan pengelolaan air dan pemberdayaan petani, meminimalkan kebocoran air di sepanjang jaringan irigasi, efisiensi penggunaan air," ujarnya, Jumat (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PUPR Bakal Lelang 15 Bendungan |
Hal lainnya, yakni mengembangkan jaringan irigasi air tanah di wilayah cadangan air tanah, percepatan penyelesaian 120 embung, revitalisasi 16 danau, pemeliharaan ratusan bendungan, dan pemantauan waduk.
Ia menyebut 16 waduk itu tediri dari waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedunggombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-Bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Selorejo, dan Ponre-Ponre. Total ketersediaan air di 16 waduk tersebut berjumlah 3,85 miliar meter kubik.
"Areal yang bisa dilayani 403.413 hektare (ha)," imbuh Hari.
Selain waduk utama, pemerintah juga memantau 215 waduk lainnya. Hari menyebut volume ketersediaan air sebanyak 1,57 miliar meter kubik dengan area yang bisa dilayani 403.413 ha.
Hari menambahkan pemerintah memprediksi Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, dan Sumatra akan mengalami masa kekeringan lebih parah dibandingkan pada 2018 lalu. Curah hujan diramalkan semakin berkurang pada Agustus dan kekeringan akan tersebar luas pada September. (aud/bir)