Garuda-Sriwijaya Air Ogah Pangkas Harga Tiket Demi Saingi LCC

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 14:43 WIB
Garuda-Sriwijaya Air Ogah Pangkas Harga Tiket Demi Saingi LCC Ilustrasi harga tiket pesawat. (ANTARA FOTO/Lucky R).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia Tbk dan PT Sriwijaya Air mengaku belum berencana menurunkan harga meski maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC) sudah mulai memberikan diskon harga tiket pesawat pada waktu-waktu tertentu sesuai kebijakan pemerintah.

Diketahui, maskapai LCC mulai menurunkan harga tiket pesawat 50 persen dari Tarif Batas Atas (TBA) setiap Selasa, Kamis, dan Jumat setiap pekan untuk penerbangan pukul 10.00-14.00 WIB. Hal ini dilakukan sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Adapun Garuda Indonesia yang merupakan maskapai layanan penuh (full service) dan Sriwijaya Air yang merupakan maskapai layanan medium (medium service) tak terimbas kebijakan tersebut.


Direktur Niaga Garuda Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan pihaknya tak khawatir jumlah penumpang akan melorot karena maskapai penerbangan LCC memangkas harga tiket hingga setengah harga. Hal ini lantaran pasar pengguna bagi maskapai full service, medium service, dan LCC diyakini berbeda.

"Pasarnya beda, dia (penumpang) tidak pindah ke mana-mana," ucap Pikri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/7).


Hal serupa diungkapkan oleh Direktur Komersial PT Sriwijaya Air Joseph K Tendean. Menurutnya, belum ada pengaruh dari penurunan harga tiket yang dilakukan oleh maskapai penerbangan di segmen LCC.

"Sampai sekarang belum ada pengaruh," ucapnya.

Ia mengatakan manajemen tak berniat menurunkan harga tiket pesawat dalam waktu dekat. Pasalnya, penurunan harga tiket pesawat biasanya dilakukan ketika masuk low season, sedangkan saat ini industri penerbangan menyebutnya sebagai shoulder season.

"Saat ini kan kami baru saja lepas dari liburan anak sekolah, sekarang permintaan masih banyak lah, istilahnya orang-orang masih harus balik karena ada orang yang liburannya agak telat," kata Joseph.

Ketika masuk low season, ia mengaku siap menurunkan harga tiket sebesar 15 persen-20 persen. Strategi itu kerap dilakukan perusahaan setiap tahun demi menarik penumpang saat permintaan mulai turun.

"Jadi semua tergantung musimnya, wajar itu dilakukan," terang dia.


Menurutnya, penurunan harga tiket saat low season cukup ampuh untuk menarik penumpang. Dengan begitu, jumlah penumpang dan pendapatan yang ditetapkan manajemen sejak awal berpotensi mencapai target.

"Kami targetkan jumlah penumpang sekitar 11 juta tahun ini dan bisa laba," imbuhnya.

Salah satu upaya perusahaan menaikkan jumlah penumpang tahun ini dengan meluncurkan fitur baru bernama Sriva di aplikasi ponsel. Fitur tersebut bisa melayani pelanggan selama 24 jam.

"Dari fitur ini diharapkan bisa menaikkan pengguna yang beli dari aplikasi menjadi 1 juta penumpang, tahun lalu hanya 300 ribu penumpang," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
Joseph menyebut perusahaan menargetkan bisa meraup laba bersih sebesar Rp300 miliar tahun ini dari posisi 2018 lalu yang merugi Rp1,2 triliun. Selain strategi mengenai tiket, perbaikan kinerja ini ditopang oleh upaya efisiensi perusahaan.

"Ada beberapa rute yang merugi kami tutup, tapi juga ada yang kami tambah. Lalu juga kesepakatan kerja sama yang tidak benar (tidak menguntungkan) kami urus lagi, itu kan buat rugi perusahaan," papar Joseph.

Beberapa rute yang masih rugi dan ditutup, misalnya rute dengan tujuan Bayuwangi, Marauke, dan Nabire. Kemudian, Sriwijaya menambah rute dengan tujuan Medan-Surabaya dan Jakarta-Manado-Sorong.

"Ada lima sampai enam rute yang kami tutup, dan kami tambah ada empat rute," pungkas Joseph. (aud/agi)