Luhut Usul Pemilik Lahan Sawit 'Bandel' Didenda

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 13:41 WIB
Luhut Usul Pemilik Lahan Sawit 'Bandel' Didenda Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengusulkan penerapan denda bagi pemilik lahan sawit yang bermasalah. Disebut bermasalah karena menurut Bank Dunia, sebanyak 80 persen kepemilikan lahan sawit melanggar luasan lahan, kelestarian lingkungan, dan kewajiban pengadaan perkebunan plasma.

Problematik itu dinilai sebagai warisan masa lalu yang tak kunjung selesai. "Saya usul. Usul ya. Jadi, itu banyak masalah, karena peninggalan yang lalu. Nah, sekarang mau diapakan, masa dibiarin terus atau dipenjarakan semua, kan tidak benar juga," ujarnya, Selasa (16/7).

Untuk menerapkan denda, ia mengatakan pemerintah akan memanfaatkan data luasan kepemilikan lahan sawit dari satu peta perkebunan kelapa sawit. Data tersebut berbasis citra satelit. Jika tidak ada aral melintang, satu peta perkebunan kelapa sawit akan dirilis pada Agustus 2019.

"Kami tahu persis kamu punya berapa hektare (ha). Jadi, kamu tidak bisa bohong lagi, karena peta sekarang ini sudah menggunakan citra satelit," imbuh Luhut.


Saat ini, usulan pengenaan denda baru akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Denda dinilai lebih efektif ketimbang proses hukum. Apabila dikelola dengan tepat, ia memprediksi lahan sawit berpotensi menyumbang pajak sebesar US$70 miliar per tahun.

"Nanti, tentu dirumuskan seperti apa bentuknya (denda). Saya kira, mestinya dalam bentuk dana yang diberikan kepada pemerintah," jelasnya.

Sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia. Studi terbaru TuK Indonesia melansir area yang ditanami sawit sepanjang 2007-2017 meningkat hingga 82 persen. Rinciannya, dari 6,8 juta ha pada 2007 melonjak jadi 12,3 juta ha pada 2017.

Studi itu juga mengungkap jika sebesar 3,8 juta ha lahan sawit dari total lahan 12,3 juta ha yang ditanami, dikuasai 25 kelompok usaha raksasa. Sebagian besar mereka masuk dalam kategori orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan aset mencapai US$2-US$6 miliar.


Namun, perkembangan lahan sawit tak lepas dari konflik. Catatan Akhir Tahun 2018 Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyatakan konflik terbesar tahun lalu datang dari perkebunan, terutama sawit, yang mencapai 144 kasus.

KPA mencatat 41 orang tewas akibat konflik agraria-di sektor sawit, tambang, hingga hutan-dalam 4 tahun terakhir. Selain itu, ada 546 orang yang diduga dianiaya, 51 orang tertembak hingga 900 lebih petani dikriminalisasi terkait dengan kasus tanah.

Selain itu, Greenpeace juga mengungkap praktik deforestasi yang dilakukan oleh 25 produsen minyak sawit utama. Hasilnya, mereka menemukan grup industri tersebut diduga menggunduli lebih dari 130 ribu ha hutan dalam tiga tahun terakhir sejak akhir 2015 lalu. Sebanyak 40 persen deforestasi 51.600 ha berada di Papua.
[Gambas:Video CNN]


(ulf/bir)