"Ruang itu masih ada, tapi seberapa luas, itu tergantung banyak hal, dia tidak bisa berdiri sendiri," ungkap Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/7).
Menurut Darmin, kurs rupiah dalam beberapa tahun ini bergerak pada rentang Rp13.900 per dolar Amerika Serikat (AS) seperti saat kondisi ekonomi stabil pada akhir 2017. Sayangnya, arah kebijakan moneter ketat yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat The Fed 2018 lalu membuat rupiah terpuruk hingga menyentuh kisaran Rp15 ribu per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin mengatakan pemerintah sebenarnya sudah berupaya untuk membawa rupiah keluar dari tekanan tersebut. Tapi, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Rupiah mash sulit menguat terhadap dolar AS.
Rupiah bertengger di posisi Rp13.934 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (19/7). Sedangkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.913 per dolar AS.
Bila dibandingkan dengan mata uang Asia, pergerakan rupiah hari ini cukup baik. Sebab, beberapa mata uang lain justru berada di zona merah, seperti dolar Singapura yang melemah 0,11 persen dan yen Jepang minus 0,35 persen.
Namun, mayoritas mata uang Asia memang tengah menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Ringgit Malaysia menguat 0,03 persen, yuan China 0,04 persen, peso Filipina 0,06 persen, rupee India 0,11 persen, dolar Hong Kong 0,13 persen, baht Thailand 0,18 persen, dan won Korea Selatan 0,36 persen.
[Gambas:Video CNN]
(uli/agt)