Ketegangan Timur Tengah Dorong Minyak Menguat 1 Persen Lebih

CNN Indonesia | Selasa, 23/07/2019 07:31 WIB
Ketegangan Timur Tengah Dorong Minyak Menguat 1 Persen Lebih Ilustrasi harga minyak. ( ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (23/7) kemarin. Penguatan terjadi  di tengah kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah pasca pihak militer Iran menyita kapal tanker Inggris pekan lalu.

Mengutip Reuters pada Selasa (23/7), harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan kemarin naik 1,3 persen menjadi US$63,26 per barel.

Hal yang sama terjadi pada harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) sebesar 1,1 persen menjadi US$56,22 per barel.


Sepanjang pekan lalu, harga minyak mentah berjangka AS WTI tergelincir lebih dari 7 persen dan Brent lebih dari 6 persen. Pelemahan dipicu oleh kekhawatiran ekonomi dan kembalinya produksi AS di Teluk Meksiko setelah badai.


"Beberapa tekanan jual tampaknya mulai menghilang pekan ini, ketakutan tentang geopolitik sepertinya telah menghentikan sebagian tekanan jual itu," ungkap Wakil Presiden Riset Pasar di Tradition Energy di Stamford Connecticut Gene McGillian.

Pada Jumat (19/7) lalu, Pengawal Revolusi Iran mengaku telah menangkap sebuah kapal tanker minyak berbendera Inggris di Teluk. Hal ini dilakukan sebagai respons atas penyitaan yang dilakukan Inggris terhadap kapal tanker Iran awal bulan ini.

Situasi itu otomatis membuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Selat Hormouz di mulut Teluk, di mana seperlima dari pasokan minyak dunia mengalir melalui selat tersebut. Namun, sejauh ini diyakini tidak ada eskalasi besar-besaran dengan Inggris atau AS.

"Dalam permainan kucing dan tikus yang Iran mainkan dengan AS, keduanya telah memperhitungkan risiko yang akan terjadi," kata Ahli Strategi Minyak Global di BNP Paribas di London.

[Gambas:Video CNN]

Pekan lalu, data menunjukkan pengiriman minyak mentah dari Arab Saudi, sebagai eksportir minyak dunia, jatuh ke level terendah.

Uang spekulatif mengalir kembali sebagai tanggapan atas naiknya tensi perselisihan antara Iran, AS, dan negara barat lainnya bersamaan dengan sejumlah tanda jatuhnya jumlah pasokan. Pada awal Mei kemarin, sanksi baru AS yang lebih ketat terhadap Iran mulai berlaku.

Menurut data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS dan Intercontinental Exchange, pengelola dana lindung nilai menaikkan posisi gabungan berjangka dan opsi pada minyak mentah AS untuk minggu kedua dan posisi mereka dalam minyak mentah Brent.

Pada Minggu (21/7), Goldman Sachs menurunkan prediksi terkait pertumbuhan permintaan minyak tahun ini menjadi 1,275 juta barel per hari.

(aud/agt)