Konsumsi Masyarakat Menengah Bawah Lemah, Ritel Tertekan

CNN Indonesia | Selasa, 30/07/2019 11:39 WIB
Konsumsi Masyarakat Menengah Bawah Lemah, Ritel Tertekan Ilustrasi ritel. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pemasok Pasar Ritel Indonesia (AP3MI) mengatakan pelemahan konsumsi yang terjadi pada masyarakat menengah bawah telah menekan kinerja sektor ritel. Tekanan tersebut tercermin dari data penjualan toko tradisional yang merepresentasikan konsumsi kelas menengah bawah. 

Penasehat Asosiasi Pemasok Pasar Ritel Modern Indonesia (AP3MI)  Yongky Susilo mengatakan berdasarkan data yang dimilikinya, penjualan toko tradisional cenderung tumbuh negatif 4 persen pada semester I 2019. 

Namun demikian, ia menyebut tak ada persoalan krusial pada kelas menengah atas. D
ata penjualan ritel modern yang mewakili kelas menengah atas justru tumbuh 9 persen pada semester I 2019.


Yongki mengaku bingung dengan kondisi tersebut. .Pasalnya, di tengah konsumsi yang masih tumbuh 5,01 persen pada kuartal I 2019, sektor ritel justru seperti kehilangan tenaga.


Setelah ditelusuri, ternyata rumah tangga kelas bawah sangat mengontrol dan menahan volume konsumsinya.

"Makanya, global office mempertanyakan, katanya (konsumsi) Indonesia tumbuh 5 persen, tapi kok seperti (perusahaan) tidak jualan di Indonesia. Ini yang susah menjelaskan kemarin kepada CEO, ada apa dengan Indonesia," ujarnya, Senin (29/7).

Ia menambahkan kucuran bantuan sosial kepada masyarakat tidak berpengaruh signifikan pada tingkat pertumbuhan konsumsi. Pasalnya, bantuan sosial tersebut ternyata tidak bisa langsung dibelanjakan masyarakat. Karenanya, ia mendorong program cash for work atau kegiatan padat karya dengan memberikan upah langsung tunai kepada tenaga kerja.

Alasannya, program cash for work mampu mengerek daya beli masyarakat. Untuk melancarkan program cash for work maka pemerintah perlu menggenjot pembukaan lapangan kerja maupun proyek dalam skala besar.

"Makanya untuk swasta berusaha dibuat suasana usaha yang positif. Izinnya dipercepat jangan diganggu, dikasih semangat, dikasih kesempatan, buka ekspor, dan buka distribusi ke dalam negeri. Itu saja," tuturnya.

Ia meyakini pertumbuhan ritel akan pulih pada semester II 2019. Secara keseluruhan, ia memprediksi pertumbuhan ritel akan mencapai kisaran 6 persen-9 persen.

Hingga semester I 2019, pertumbuhan ritel baru mencapai kisaran 1 persen-5 persen. 
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi harus didorong mencapai di atas 5,5 persen.

Sedangkan konsumsi rumah tangga digenjot mencapai 5,8 persen-6 persen. Dengan demikian, sektor ritel diyakini bisa kembali terdongkrak.
[Gambas:Video CNN]
Jangan 'Salahkan' Milenial

Ia mengaku tidak sepakat jika lesunya pertumbuhan ritel dipicu perilaku konsumsi generasi milenial yang berpindah (shifting) kepada hal-hal yang sifatnya leisure, yakni traveling dan hiburan. Pasalnya, populasi milenial hanya seperempat dari populasi Indonesia atau setara kurang lebih 65 juta orang.

"Jadi jangan milenial terus yang diomongin (penyebab ritel lemah)," katanya.

Di sisi lain, leisure hanya dinikmati oleh kalangan menengah atas. Kondisi ini tidak terjadi sama sekali pada kelas bawah. Dengan demikian, shifting kepada leisure bukan alasan tepat lesunya bisnis ritel.

"Kelas menengah atas dan menengah bawah itu beda persoalan, yang bawah itu tidak leisure, mereka tidak memiliki uang bagaimana mau leisure. Jadi jangan disamain semua orang leisure, cari masalahnya apa, yaitu income (pendapatan) dia kurang (kelas bawah)," tandasnya.

(ulf/agt)