Insiden itu juga bertepatan pada akhir pekan, di mana banyak masyarakat menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan.
Ketua Aprindo Roy Mandey mengatakan asumsi itu dibuat berdasarkan perhitungan jika rata-rata pengunjung pusat perbelanjaan mencapai 30 ribu orang pada akhir pekan. Dari jumlah tersebut, ia memperkirakan 10 orang orang menunda belanjanya akibat listrik padam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nilai tersebut belum memasukkan kerugian dari barang yang bisa rusak akibat listrik padam seperti daging dan ikan," imbuhnya.
Di samping potensi kehilangan omzet, ia menyebut biaya operasional ikut membengkak. Alasannya beberapa gerai menggunakan genset agar bisa tetap melayani pengunjung.
Lihat juga:PLN: Nanti Malam, Pasokan Listrik Normal |
PT PLN (Persero) sebagai satu-satunya perusahaan yang mensuplai listrik, lanjut roy, seharusnya bisa bertindak lebih cepat dan tanggap jika didapati gangguan gardu listrik.
Di samping itu, PLN seyogyanya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara memberikan pelayanan kepada masyarakat saat listrik padam. "Kami setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam ini," terang dia.
Sebagai informasi, listrik padam di sejumlah wilayah Jakarta dan sebagian Banten, Jawa Barat, serta Jawa Tengah, pada Minggu (4/8). Bahkan beberapa wilayah masih padam hingga Senin (5/8) pagi.
[Gambas:Video CNN]
PLN menjelaskan listrik mati karena ada gangguan pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kiloVolt (kV). Hal ini mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan.
Atas kejadian tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi Kantor Pusat PLN, Senin (5/8). Jokowi meminta perusahaan setrum negara tersebut untuk segera menyelesaikan masalah.
Ia juga mempertanyakan jajaran PLN yang tak menghitung kejadian gangguan listrik sehingga berdampak pada pemadaman di sejumlah wilayah. Menurutnya, listrik mati tiba-tiba menunjukkan tak ada langkah antisipasi dari PLN.
"Kok tahu-tahu drop (listrik) itu? Artinya pekerjaan yang ada tidak dihitung, tidak dikalkulasi. Dan itu betul-betul merugikan kita semuanya," ujarnya. (ulf/bir)