JK Minta Perbankan Turunkan Bunga Kredit agar Ekonomi Tumbuh

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 15:04 WIB
JK Minta Perbankan Turunkan Bunga Kredit agar Ekonomi Tumbuh Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perbankan turunkan bunga kredit agar ekonomi tumbuh. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta perbankan untuk menurunkan bunga deposito dan pinjaman mereka. Kebijakan tersebut diperlukan untuk mendorong pertumbuhan investasi yang merupakan ujung tombak dari ekonomi dalam negeri.

Ia meyakini dengan bunga rendah, minat investor menanamkan modalnya di dalam negeri bisa semakin meningkat karena biaya operasional mereka bisa ditekan.

"Teori sederhana ekonomi kalau bunga rendah investasi tinggi. Jadi kalau bunga tinggi bagaimana orang mau investasi," katanya dalam acara Mandiri Beyond Wealth, Rabu (7/8).


Ia menambahkan BI telah membuka pintu bagi bank nasional untuk menurunkan bunga pinjaman mereka. Pintu tersebut diberikan dengan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.

Pintu tersebut ia harapkan diikuti perbankan nasional. JK bank mau menurunkan suku bunga pinjaman mereka, aliran investasi di Indonesia bisa semakin deras.

Apalagi pada saat bersamaan, inflasi di dalam negeri yang mengindikasikan fundamental ekonomi Indonesia cukup stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk inflasi Jui 2019 sebesar 0,31 persen lebih kecil dibanding inflasi Juni yang sebesar 0,55 persen.

Secara tahunan (yoy) inflasi sebesar 3,32 persen. Jadi tak ada alasan bagi perbankan untuk mempertahankan tren bunga tinggi. 
Menurut JK, dengan tingkat inflasi tersebut seharusnya bunga deposito tidak lebih dari 5 persen dan bunga pinjaman tidak lebih dari 7 persen-8 persen.

Apabila bank mematok lebih tinggi dari itu, ia justru khawatir bisa memperlambat laju ekonomi.

[Gambas:Video CNN]
"Lebih daripada itu tentu ekonomi kita tidak jalan, karena bank itu tidak hidup dari besarnya bunga saja, tapi hidup dari tingginya pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Ia meminta perbankan tidak mengkaitkan tingkat suku bunga dengan bunga The Fed. Sebab, ketika Fed Rate menguat lalu dolar AS mengalir keluar, tetapi rupiah masih berada di dalam negeri sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Untuk diketahui, The Fed akhirnya memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 2 persen-2,25 persen.

"Tidak ada hubungannya antara The Fed dengan Indonesia, karena rupiah tidak ke mana-mana. Terkecuali kalau tinggi bunga di Amerika, lalu rupiah lari-lari ke Amerika nah itu baru masalah," katanya.

(ulf/agt)