Perang Dagang Memanas, Kurs Yuan China Semakin Tersungkur

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 14:13 WIB
Perang Dagang Memanas, Kurs Yuan China Semakin Tersungkur Ilustrasi. (REUTERS/Thomas White).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kurs yuan China semakin tersungkur melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/8). Hal itu terjadi menyusul keputusan bank sentral China People's Bank of China (PBoC) untuk kembali menyeret tingkat referensi harian yuan di tengah memanasnya perang kurs antara AS dan China.

Dilansir dari AFP, Rabu (7/8), PBoC menetapkan tingkat paritas tengah yuan hari ini di level 6,9996 per dolar AS atau melemah dari Selasa (6/8) ketika mencapai level terendahnya dalam sebelas tahun terakhir.

Pelemahan kurs Yuan terjadi di perdagangan dalam dan luar negeri pada Rabu (7/8) pagi. Tercatat, kurs Yuan di dalam negeri berada di level 7,0454 per dolar AS dan di luar negeri 7,0796 per dolar AS.


Sebelumnya, nilai tukar yuan melewati lewat kunci 7,0 terhadap dolar AS pada awal pekan ini. Hal itu menjadi respons China setelah beberapa hari sebelumnya AS mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif baru pada impor China mulai 1 September 2019 mendatang.


Terjadinya depresiasi terhadap nilai yuan membuat ekspor China menjadi lebih murah sehingga mampu menutupi sebagian dari beban tarif yang diberlakukan oleh AS. Dampak pengenaan tarif tersebut akan segera terlihat pada sekitar US$660 miliar barang yang diperdagangkan antar kedua negara perekonomian terbesar dunia itu setiap tahun.

Saat ini, yuan yang tidak dapat dikonversi secara bebas. Pemerintah China membatasi pergerakannya terhadap dolar AS hingga kisaran dua persen dari kedua sisi tingkat paritas tengah yang ditetapkan bank sentral China setiap hari untuk mencerminkan tren pasar dan mengendalikan volatilitas.

Sistem mengambang terkendali yang dilakukan PBoC membatasi volatilitas yuan yang tetap berada di rentang 6,1 hingga 7,1 per dolar AS selama lima tahun terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebelumnya menyatakan pelemahan yuan terhadap dolar AS biasanya akan diikuti oleh mata uang negara lain, termasuk rupiah. Hal itu dilakukan untuk menjaga daya saing produknya ekspor.


Bank Sentral China: Tudingan AS Bikin Pasar Keuangan Kacau

Bank sentral China menilai sikap Amerika Serikat (AS) yang memberi label Beijing sebagai manipulator mata uang akan merusak tatanan keuangan internasional dan menyebabkan kekacauan di pasar keuangan.

Dikutip dari Reuters, bank sentral China People's Bank of China (PBOC) mengungkapkan keputusan AS untuk meningkatkan ketegangan di pasar keuangan pada Senin (5/8) lalu, juga akan mencegah pemulihan ekonomi dan perdagangan global.

Pernyataan itu disampaikan dalam tanggapan resmi pertama China terhadap tudingan terbaru AS. Sebelumnya, Negeri Paman Sam menuduh China memanipulasi mata uang dengan sengaja melemahkan nilai yuan. Situasi perang dagang kembali memanas dalam waktu singkat.

"China belum menggunakan dan tidak akan menggunakan nilai tukar sebagai alat untuk menangani sengketa perdagangan," kata bank sentral China dalam sebuah pernyataan di situs resminya, dikutip dari Reuters, Rabu (7/8).


PBOC juga menyebut China menyarankan AS untuk mengendalikan 'kuda'-nya sebelum masuk jurang, dan waspada akan kesalahan yang telah dilakukan. Kemudian, berbalik dari jalan yang salah.

Tuduhan manipulator mata uang oleh AS, yang diikuti penurunan tajam yuan pada Senin (5/8) lalu dianggap mendorong gejolak yang lebih besar antara dua ekonomi terbesar dunia itu. Sikap tersebut juga menghancurkan harapan yang tersisa untuk resolusi cepat perang dagang mereka selama setahun.

Dalam perkembangannya, perselisihan telah menyebar di luar persoalan tarif ke sektor lain seperti teknologi. Para analis menilai pelaku ekonomi perlu waspada dengan langkah saling balas antara AS dan China dapat melebar dalam ruang lingkup lalu, dan membebani kepercayaan bisnis serta pertumbuhan ekonomi global.

[Gambas:Video CNN]

Senin (5/8) lalu, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa mereka telah menemukan untuk pertama kalinya sejak 1994 bahwa China memanipulasi mata uangnya, membawa perselisihan perdagangan mereka di luar persoalan tarif dagang.

Sikap AS dengan menyebut China sebagai manipulator terjadi kurang dari tiga pekan setelah Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan nilai tukar yuan sejalan dengan fundamental ekonomi China. Di sisi lain, kurs dolar AS dinilai terlalu tinggi antara 6 persen hingga 12 persen.

Undang-undang AS menetapkan tiga kriteria untuk mengidentifikasi manipulasi di antara mitra dagang utama antara lain, surplus neraca berjalan global yang material, surplus perdagangan yang signifikan dengan AS, dan intervensi satu arah yang terus-menerus di pasar valuta asing.

(hns/sfr)