Kesimpulan itu diperoleh dari hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang dilakukan terhadap 201 mitra Gojek yang terdiri dari mitra Go-Ride, Go-Car, Go-Food, Go-Life dengan penelitian kualitatif.
Mitra tersebar di sembilan kota, yakni Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan, Makassar, dan Palembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, sejumlah mitra Gojek juga merasa dibutuhkan dan menjadi solusi banyak orang. Bagi mitra Go-Massage misalnya, seorang penyandang tunanetra yang sebelumnya tak bekerja kini memiliki kesempatan untuk mencari nafkah dan merasa berguna untuk masyarakat.
"Jadi awalnya pas datang ke konsumen, konsumen merasa kesakitan. Tapi setelah itu senang setelah dipijit. Jadi mitranya juga memiliki emosi positif," terang dia.
"Ini membuat mitra merasa dihargai," imbuhnya.
Di samping itu, respons dari konsumen yang puas dan menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung juga berperan memberikan kebahagiaan untuk mitra Gojek. Kemudian, pemberian tips dari konsumen juga berharga bagi mitra Gojek.
Lalu, mitra Gojek juga merasa bahagia karena bisa mengatur waktu kerjanya sendiri. Dengan demikian, sang mitra memiliki waktu yang lebih fleksibel dalam bekerja dan mengurus urusan pribadinya.
Faktor terakhir, yakni mitra Gojek memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Bukan hanya bertemu klien yang berbeda tiap harinya, tapi sesama mitra juga bisa membuat komunitas untuk membina relasi satu sama lain.
"Ada beberapa komunitas yang memberikan kesempatan kepada mitra untuk berbuat baik, seperti menyediakan buka puasa bersama sampai berikan donasi," ungkap Bagus.
[Gambas:Video CNN]
Kekhawatiran Mitra
Walaupun ada rasa kebahagiaan yang didapat di luar finansial, tetapi beberapa mitra khususnya Go-Ride juga mengaku khawatir dengan sikap konsumen. Masalahnya, beberapa orang suka membatalkan order, jarak tempuh yang dituju tak sesuai dengan aplikasi.
Tak hanya itu, mitra Gojek juga mengeluhkan sejumlah pesanan fiktif. Untuk fitur Go-Send misalnya, sang mitra sudah membelikan barang yang tertera pada aplikasi, tetapi setelah itu konsumen menghilang.
"Makanya ini Gojek juga harus memperhatikan kesesuaian dalam penggunaan layanan untuk menjauhkan mitra dari pengalaman tidak menyenangkan akibat tindakan curang pelanggan," papar Bagus.
Kemudian, masalah keamanan di lingkungan tertentu juga masih menjadi kendala bagi mitra Gojek. Merasa seringkali bekerja dengan rasa khawatir yang cukup tinggi.
Selanjutnya, mitra Gojek juga khawatir terhadap jumlah pendapatan yang tak menentu tiap bulannya. Sementara, mereka membutuhkan sumber pendapatan yang berkelanjutan demi menyambung hidup.
"Untuk mengatasi kekhawatiran terkait kondisi keuangan, beberapa mitra mengaku sudah mengikuti program swadaya dari Gojek," tuturnya.
Bagus juga menyebut sejumlah mitra juga khawatir dengan keselamatannya di jalan. Belum banyak yang paham bagaimana cara mengakses program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
"Untuk itu diperlukan akses informasi jaminan sosial yang lebih mudah dan menyeluruh untuk para mitra," pungkas Bagus. (aud/lav)