Dua negara tetangga itu telah memperpanjang fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dengan AS. GSP merupakan kebijakan untuk memberikan keringanan bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. Saat dua negara itu menikmati kembali GSP dari AS, Indonesia justru tengah berjuang memperpanjangnya.
"Kita terlambat untuk membuat kerja sama bilateral atau multilateral. GSP masih dibicarakan dengan Amerika, mudah-mudahan selesai di bulan-bulan yang akan datang dengan AS," katanya, Rabu (7/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena Vietnam lebih dulu menerapkan GSP, maka Vietnam yang mengambil manfaat sehingga ekspor lebih besar," katanya.
Pemerintah juga sedang merampungkan perjanjian dagang dengan Uni Eropa (I-EU CEPA).
"Kami menyadari bahwa kami harus tanggap atau cepat ambil antisipasi. Salah satu jalan keluar adalah mempercepat perjanjian-perjanjia bilateral dan multilateral dengan negara yang punya pasar besar," tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini mengatakan pemerintah menargetkan dapat memberlakukan (entry to force) IA-CEPA tahun depan.
Sejalan dengan target pemberlakuan perjanjian dagang dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (European Free Trade Association/EFTA) alias EFTA-CEPA di tahun yang sama.
"Target kami paruh pertama tahun depan selesai (ratifikasi) dan bisa langsung diimplementasikan," katanya, Senin (5/8).
Selain implementasi dua perjanjian dagang, pemerintah mengaku terus mengejar finalisasi perjanjian dagang lainnya.
[Gambas:Video CNN]
Perjanjian dagang itu meliputi tiga perjanjian dagang dari benua Afrika, yaitu Mozambik, Tunisia, dan Maroko dalam bentuk Prefential Trade Agreement (PTA).
Lebih lanjut, dua perjanjian dagang dengan negara Asia, yakni Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) dan perjanjian dagang Indonesia-Korea Selatan (IK-CEPA). (ulf/lav)