JK memaparkan Singapura telah mengubah ekonominya dari negara pelabuhan menjadi negara yang mengandalkan industri dan jasa.
"Dulu, dia (Singapura) negara pelabuhan, terus menjadi perdagangan dan industri. Industri butuh tenaga kerja besar, makanya dia pilih jasa keuangan, jasa kesehatan. Sekarang sakit kepala ke Singapura," ujar JK di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang produk apapun yang kita pakai itu pasti made in China. Semua barang, termasuk yang kecil. Itu transformasi dari agraris ke manufaktur," jelasnya.
Transformasi, lanjut JK, memerlukan modal berupa teknologi dan keahlian yang dilengkapi dengan kebijakan pemerintah yang mendukung.
Sejumlah negara tetap mengandalkan perekonomiannya dari sektor agraris dan Sumber Daya Alam (SDA). Misalnya, Australia dan Amerika Serikat (AS). Namun, negara-negara itu melakukan tranformasi dari sisi efisiensi.
"Amerika juga tetap negara agraris tetapi, dulu jaman 60-an, yang kerja di pertanian 30 persen, sekarang mungkin hanya 7 persen," jelasnya.
Sebenarnya, sambung ia, Indonesia sudah mulai melakukan transformasi. Mulai dari mengubah minyak kelapa sawit menjadi minyak goreng hingga mengolah logam mineral melalui fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter).
Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memetakan proses trasformasi tersebut, meski masih ada yang berjalan lambat.
"Pertanian harus dilakukan dengan tiga tahap, agraris, agrobisnis, dan menjadi industri. Makanya, perlu kebijakan yang drastis untuk transformasi ini," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)