BI Sebut Harga Rumah Kecil Naik Paling Tinggi

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 16:15 WIB
BI Sebut Harga Rumah Kecil Naik Paling Tinggi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan harga rumah pada kuartal III 2019 bakal meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan oleh otoritas moneter itu secara berkala.

Kenaikan harga rumah terindikasi dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal III 2019 sebesar 0,76 persen secara kuartalan (qtq) atau lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, 0,2 persen.

"Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya kenaikan harga rumah yang terjadi pada seluruh tipe rumah, tertinggi pada rumah tipe kecil yang meningkat dari 0,37 persen (qtq) menjadi 1,74 persen (qtq)," ujar BI dalam SHPR yang dirilis pada 12 Agustus 2019, dikutip Senin (12/8).


Secara tahunan, kenaikan harga rumah pada periode Juli-September 2019 juga ditaksir menguat dari 1,47 persen (yoy) pada kuartal II 2019 menjadi 1,82 persen.

Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada seluruh tipe rumah, terutama rumah tipe kecil yang naik 2,18 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 3,26 persen.

Namun, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana pertumbuhannya mencapai 3,18 persen, proyeksi kenaikan harga rumah pada kuartal III 2019 melambat.

Berdasarkan wilayah, dari 18 kota yang disurvei, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Medan sebesar 4,13 persen secara tahunan. Kemudian, harga rumah di Kota Manado mengekor dengan kenaikan sebesar 3,05 persen. Penurunan harga hanya terjadi di Kota Pekanbaru sebesar 0,05 persen.

Sementara itu, pada kuartal II 2019, survei BI mengindikasikan perlambatan kenaikan harga rumah di pasar primer dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini. Melambatnya kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah.

Hal itu tercermin dari IHPR kuartal II yang tumbuh 0,2 persen (qtq) atau melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 0,49 persen (qtq).

Sementara, volume penjualan rumah pada kuartal II 2019 tercatat turun 15,90 persen (qtq). Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal sebelumnya yang masih bisa tumbuh 23,77 persen (qtq).

Merosotnya penjualan rumah disebabkan oleh penurunan penjualan pada rumah tipe kecil dan rumah tipe menengah.

"Menurut responden, beberapa faktor yang menyebabkan penurunan penjualan adalah melemahnya daya beli, suku bunga KPR yang cukup tinggi, dan tingginya harga rumah," tulis survei tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut, survei yang sama juga mencatat pembiayaan pembangunan rumah oleh pengembang terutama bersumber dari non perbankan. Hal itu tercermin pada pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dana internal pengembang yang mencapai 60,57 persen.

Di sisi konsumen, pembelian rumah sebagian besar masih menggunakan fasilitas KPR sebagai sumber pembiayaan utama. (sfr/bir)