Ketua Umum API Prijandaru Effendi mengatakan sampai saat ini listrik yang dihasilkan dari energi panas bumi baru menyentuh 1.948 MegaWatt (mw). Padahal, industri ini sudah dikembangkan sejak 30 tahun silam.
Sementara, pemerintah menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2025 mendatang bisa mencapai 23 persen dari total energi. Salah satu sumber EBT ini sendiri, yakni panas bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tahun ini, tambahan aliran listrik panas bumi hanya 185 MW dari empat PLTP. Keempatnya berada di Sumatra Barat, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sumatra Selatan.
"Kapasitas itu bisa bertambah menjadi 2.135 mw," imbuhnya.
Misalnya, kerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) agar memberikan pendanaan yang murah untuk pengusaha di sektor panas bumi.
"Kami mau upayakan bagaimana meningkatkan kemampuan dari SMI, sehingga kami bisa mendapatkan dana yang murah itu dan bisa diakses perusahaan," kata Sutijastoto.
Namun, ia juga meminta kepada perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya agar bisa memenuhi syarat perbankan dalam meminjam dana (bankable). Selain itu, pelaku usaha juga harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.
[Gambas:Video CNN]
"Panas bumi itu investasinya US$3 juta per MW, sekarang ada 6 ribu MW. Tapi bergantung juga daerahnya, ada yang mahal juga," jelasnya.
Di samping itu, ia juga tengah mengkaji apakah sebagian biaya dana proyek pembangunan PLTP bisa diganti oleh pemerintah dengan sistem reimburse. Hal ini agar memberi keleluasaan bagi keuangan perusahaan.
"Kami lagi lihat, misalnya seperti infrastrukturnya bisa tidak di-reimburse pemerintah. Kalau di New Zealand panas bumi itu bisa murah. Kami lagi dorong," pungkasnya. (aud/bir)