Jokowi soal Investasi: 'Lambat asal Selamat' Tak Lagi Relevan

CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 13:48 WIB
Jokowi soal Investasi: 'Lambat asal Selamat' Tak Lagi Relevan Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kiasan 'lambat asal selamat' tidak lagi relevan bagi percepatan pertumbuhan investasi Indonesia. Ia ingin perolehan berbagai sumber aliran modal bagi pembangunan dilakukan secara cepat dan selamat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam rangka penyampaian Pidato Presiden mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2020 pada Sidang Bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

"Langkah demi langkah tidak lagi cukup, lompatan demi lompatan yang kita butuhkan. Lambat asal selamat tidak lagi relevan, yang kita butuhkan adalah cepat dan selamat," ungkap Jokowi di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (16/8).


Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan lantaran Indonesia sedang berada dalam persaingan investasi dengan negara-negara lain di dunia. Masing-masing negara, katanya, berebut aliran modal untuk melangsungkan pembangunan dan mengejar target pertumbuhan ekonomi.


Untuk itu, sambungnya, Indonesia juga harus bisa mengimbangi kecepatan dan inovasi investasi yang dilakukan oleh negara-negara lain. Tujuannya, agar Indonesia tak kehilangan peluang investasi tersebut.

"Kita (Indonesia) harus lebih cepat dan lebih baik dibandingkan negara-negara lai. harus lebih cepat dan lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Kita harus lebih cepat dan lebih baik dibanding negara-negara tetangga," katanya.

Lebih lanjut ia kembali mengingatkan soal pentingnya investasi bagi Indonesia. Investasi, katanya, bisa menggerakkan pertumbuhan industri yang selanjutnya berdampak pada peningkatan serapan tenaga kerja.

Bila kesempatan kerja semakin meningkat, maka masyarakat mendapat manfaat peningkatan pendapatan. Hal tersebut selanjutnya bakal memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)