Ekonom Maybank Myrdal Gunanto menyatakan daya beli masyarakat di pedesaan juga berpengaruh pada tingkat konsumsi nasional ke depannya. Setidaknya, ini bisa membantu ekonomi dalam negeri ketika komponen lainnya seperti ekspor sedang melorot.
"Yang jelas ini menopang konsumsi masyarakat secara nasional. Niat pemerintah ini bisa dongkrak daya beli domestik ketika ekspor tumbuh tertahan," ucap Myrdal, Senin (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pendampingan itu sekaligus dilihat KPI (key performance indicators) nya. Dicatat dievaluasi," tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pihaknya mengalokasikan dana desa sebesar Rp72 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Angka itu naik Rp2 triliun dari anggaran tahun ini yang hanya Rp70 triliun.
Sementara itu, pemerintah menganggarkan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp858,8 triliun. Angka itu melonjak 5,4 persen dari perkiraan realisasi tahun ini dan naik 37,8 persen dari realisasi 2015 sebesar RP623,1 triliun.
Di samping itu, pemerintah juga mengerek bantuan pangan yang disalurkan melalui Kartu Sembako Murah mulai tahun depan dari Rp1,32 juta per keluarga menjadi Rp1,8 juta per keluarga. Ini artinya ada kenaikan sebesar Rp480 ribu untuk per keluarga.
Izzudin beranggapan hal ini juga akan meningkatkan kemampuan beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Ujung-ujungnya, konsumsi rumah tangga akan terbantu dari sentimen ini.
Oleh karena itu, keputusan pemerintah yang menaikkan bantuan melalui sembako murah akan menstabilkan kembali kemampuan beli masyarakat kelas menengah ke bawah secara bertahap. Namun, hal ini disebut Izzudin bukan obat jangka panjang.
"Ini solusi jangka pendek, yang penting dijaga dulu daya beli yang kemarin turun dibuat stabil. Tapi jangka panjangnya pemerintah harus cari cara lain," pungkas dia.
[Gambas:Video CNN] (aud/lav)