Demo Belum Reda, Alibaba Tunda Melantai di Bursa Hong Kong

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 13:50 WIB
Demo Belum Reda, Alibaba Tunda Melantai di Bursa Hong Kong Ilustrasi. (REUTERS/Aly Song).
Jakarta, CNN Indonesia -- Raksasa perusahaan e-commerce asal China Alibaba Group Holding Ltd menunda rencana untuk melantai (listing) di bursa saham Hong Kong. Penundaan itu dilakukan menyusul aksi unjuk rasa yang belum reda di hub pasar keuangan Asia itu.

Sedianya, rencana tersebut akan direalisasikan pada akhir Agustus ini. Perusahaan menargetkan bisa meraup pendanaan hingga US$15 miliar melalui penawaran saham perdana (IPO) tersebut.

Dilansir dari Reuters, Rabu (21/8), rencana Alibaba untuk melantai di bursa saham Hong Kong sangat diperhatikan oleh pelaku pasar. Pasalnya, hal itu menjadi indikasi dari lingkungan bisnis di Hong Kong. Selain itu, rencana itu juga menjadi jendela untuk melihat bagaimana China melihat perkembangan situasi yang ada.


Sumber Reuters menyatakan keputusan penundaan itu diambil pada rapat dewan direksi sebelum dirilisnya kinerja pendapatan Alibaba pekan lalu. Alasannya, kondisi politik dan keuangan Hong Kong masih kurang stabil di tengah aksi massa pro-demokrasi yang telah berlangsung selama 11 minggu.

Aksi massa yang diwarnai kekerasan itu menyebabkan gejolak di kota. Polisi menggunakan gas air mata dan telah menahan lebih dari 700 orang. Pekan lalu, Bandara Internasional Hong Kong sempat berhenti beroperasi dan indeks saham Hong Kong anjlok ke level terendah dalam 7 bulan terakhir.

"Akan sangat tidak bijaksana untuk menjalankan kesepakatan itu sekarang atau dalam waktu dekat," ujar sumber Reuters.

Meski belum ada jadwal resmi baru, seorang sumber Reuters lainnya menyatakan Alibaba dapat menggelar IPO di bursa Hong Kong paling cepat Oktober 2019, saat tensi politik mereda dan kondisi pasar menguntungkan. Alibaba menargetkan setidaknya dapat meraup pendanaan sekitar US$10 miliar hingga US$15 miliar.

Ia menilai IPO di Hong Kong merupakan salah satu cara Alibaba untuk mendiversifikasi akses pasar modalnya. Namun, hal itu tidak sepenting aktivitas bisnis utama perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan tidak melihat penundaan itu sebagai pukulan yang besar.

Kedua sumber menolak untuk diungkap identitasnya karena tidak berwenang untuk mengeluarkan pernyataan ke media. Sementara, Alibaba menolak memberikan komentar terkait rencana mereka untuk melantai di bursa saham Hong Kong.

Masuknya Alibaba ke bursa Hong Kong sendiri penting bagi bursa saham Hong Kong untuk menyusul bursa saham New York dalam hal jumlah listing perusahaan tahunan.

Bursa saham Hong Kong tahun lalu melonggarkan aturannya agar bisa menarik perusahaan teknologi China melantai di bursanya.

Pekan lalu, Direktur Utama Bursa Saham Hong Kong Charles Li menolak untuk secara langsung menanggapi rencana Alibaba tersebut, yang secara teknis masih rahasia.
[Gambas:Video CNN]
Namun, Li menambahkan, "Saya yakin perusahaan seperti itu pada akhirnya akan menemukan rumahnya di sini karena di sini rumahnya dan saya pikir mereka akan datang. Tapi, saya tidak tahu kapan."

Sebagai informasi, bulan lalu, perusahaan asal Belgia Anheuser-Busch InBev juga membatalkan rencana untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) untuk unit Asia Pasifik di bursa saham Hong Kong. Tadinya, perusahaan berencana untuk meraup pendanaan hingga US$9,8 miliar.

(Reuters/sfr)