Gaji Karyawan Sektor Kimia RI Tertinggi Kedua di Asia Pasifik

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 18:38 WIB
Gaji Karyawan Sektor Kimia RI Tertinggi Kedua di Asia Pasifik Ilustrasi industri kimia. (REUTERS/Danish Siddiqui).
Jakarta, CNN Indonesia -- Korn Ferry (KFY), perusahaan konsultan global bidang SDM dan organisasi, melansir gaji pokok karyawan sektor industri kimia di Indonesia tertinggi kedua di Asia Pasifik. Gaji itu bahkan tercatat lebih tinggi 25 persen dibandingkan industri pada umumnya.

Laporan terbaru KFY bertajuk Reward in Asia Pacific Chemical Sector 2019 menyebutkan bahwa industri kimia kekurangan tenaga ahli dalam jumlah yang signifikan. Pada laporan sebelumnya disebutkan ada lima negara Asia Pasifik kekurangan tenaga kerja ahli paling signifikan. Yaitu, Hong Kong, Australia, Jepang, Singapura, dan Indonesia.

Dari lima negara tersebut di atas, Indonesia diperkirakan mengalami kekurangan tenaga kerja ahli paling kentara, dengan jumlah kekurangan mencapai hampir 18 juta orang pada 2030 mendatang. Hal ini dikarenakan terdapat kesenjangan persediaan tenaga kerja ahli muda dan kebutuhan industri.

Padahal, industri kimia di Indonesia merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dan mendukung kegiatan manufaktur utama dalam industri makanan dan minuman, serta otomotif, tekstil, farmasi, dan elektronik.

Tak hanya itu, Satya Radjasa, Chairman & Managing Director Korn Ferry Indonesia bilang industri kimia juga merupakan penyedia solusi untuk berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi dan degradasi lingkungan.

"Industri kimia di Indonesia yang sedang berkembang menghadapi tantangan terkait permintaan tenaga kerja dengan keahlian yang tepat. Kebutuhannya tak hanya sebatas profesional saja, tetapi juga para profesional dengan keahlian industri yang tepat," tutur Satya dalam keterangan resmi, Rabu 21/8).

Studi terbaru KFY mengenai SDM industri kimia di Asia Pasifik, ia melanjutkan melansir lebih dari separuh perusahaan sektor terkait kekurangan insinyur dan tenaga ahli bidang quality assurance.

Sementara itu, lebih dari 40 persen perusahaan kesulitan merekrut tenaga ahli bidang penelitian dan pengembangan (R&D) dan bidang produksi. Khusus untuk Indonesia, hal ini menyebabkan proyeksi gaji pokok industri kimia meningkat 8,3 persen pada 2019.

"Angka itu merupakan yang tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik setelah India yang diproyeksi meningkat sebesar 9,8 persen pada 2019 jika dibandingkan dengan industri pada umumnya," imbuh dia.

Satya menuturkan studi KFY akan menjadi angin segar bagi industri kimia di Indonesia, mengingat peranannya penting bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN yang memiliki populasi lebih dari 600 juta jiwa.

Menurut Cefic Chemdata International, penjualan bahan kimia Indonesia mencapai 43 miliar euro pada 2017 lalu atau sekitar Rp693 triliun. Meski demikian, jumlah tersebut masih kurang dari 2 persen dari total penjualan bahan kimia global yang sebesar 3.475 miliar euro.

"Kuncinya adalah mengatasi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang terkait erat dengan efektivitas biaya, maupun merekrut lebih banyak para profesional yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan industri yang terus meningkat," terang Satya.
[Gambas:Video CNN]


(bir)