Semen Indonesia Akui Kena Dampak Hadirnya Semen 'Murah' Asing

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 20:48 WIB
Semen Indonesia Akui Kena Dampak Hadirnya Semen 'Murah' Asing Ilustrasi semen. (Darren Whiteside).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mengaku kinerja bisnis perseroan terkena dampak dari kedatangan produk semen asing ke Indonesia. Namun, pengaruh itu tidak signifikan lantaran berada di wilayah yang bukan pasar utama perseroan.

SVP Stretegic Management Office (SMO) and Communication Semen Indonesia Ami Tantri mengatakan pada wilayah yang terkena dampak, penjualan perseroan tergerus. Salah satunya di Kalimantan.

"Sementara ini kami memang kena hit di area tertentu, tapi bukan major market (pasar utama) kami," katanya, Rabu (21/8).


Ia mengatakan perseroan akan fokus pada wilayah yang bukan menjadi sasaran pasar produk semen asing. Saat ini, Semen Indonesia masih menjadi jawara di wilayah Jawa Barat dan Sulawesi Utara.

Secara nasional, pangsa pasar perseroan tercatat sebesar 53 persen dari total pasar nasional pada paruh pertama 2019.

"Kami fokus ke area yang mereka tidak menjual produknya," ujarnya.

Menanggapi persaingan dengan semen asing, ia bilang perseroan akan mengandalkan kekuatan jaringan dan merek. Menurut dia, kompetisi dengan produsen asing tak bisa dihindari lantaran pasar semen Indonesia sangat menarik karena menawarkan kentungan yang besar. Ia bilang produsen semen asing telah merambah pasar sejak 2014 silam.

Kendati demikian, ia optimistis perseroan bisa menghadapi kompetisi itu dengan mengandalkan kekuatan jaringan dan merek, meskipun produsen semen asing menawarkan harga yang lebih rendah dari pasar.

"Jadi tidak masalah, karena membeli semen itu bukan harga tapi availability (ketersediaan) dan kebiasaan konsumen terhadap produk," imbuhnya.

Hingga Juli 2019, perseroan mencatat volume penjualan pasar semen domesik di luar PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) sebesar 13,49 juta ton. Sementara itu, penjualan ekspor perseroan di luar SBI mencapai 1,87 juta ton.

Di sisi lain, penjualan domestik SBI hingga Juli 2019 mencapai 5,39 juta ton. Sedangkan ekspornya mencapai 240.060 ton. Untuk diketahui, perseroan baru saja mengakuisisi SBI pada Maret 2019.

Sekadar mengingatkan, belum lama ini santer kabar industri semen domestik tertekan karena pasokannya berlebih. Kelebihan pasokan dalam negeri disinyalir karena produk semen China banjir di pasar. Apalagi, mereka mampu menjual dengan harga di bawah harga produsen domestik.

Kondisi ini bahkan menarik perhatian Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Wapres, produsen semen domestik harus bersaing dengan produsen semen asal China. Sebab, mereka dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif, meskipun pangsa pasarnya masih kecil di Indonesia.

Menurut dia, harga semen China lebih kompetitif karena harga pokok produksinya hanya Rp30 ribu per sak. Sedangkan harga pokok produksi dalam negeri mencapai Rp40 ribu per sak.

"Sehingga terjadi penurunan harga di samping over supply (kelebihan pasokan), maka pabrik-pabrik semen akan bersaing dengan hal-hal tersebut," kata JK belum lama ini.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk Jobi Triananda Hasjim hanya bungkam ketika ditanya terkait persaingan dengan semen asing.

[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)