Tembakau Bandung, 'Harta Karun' dari Bumi Priangan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 21:10 WIB
Tembakau Bandung, 'Harta Karun' dari Bumi Priangan Kebun tembakau. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Panas menyengat di tengah musim kemarau yang melanda Desa Pamujaan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Hamparan sawah terlihat mengering. Hanya ada satu kebun rimbun di antara kebun lain yang mengalami kekeringan. Kebun dipenuhi daun berwarna hijau pucat dengan corak putih yang menarik perhatian.

"Bisa dilihat, daunnya ini memiliki corak totol putih yang banyak. Artinya, tembakau ini memiliki kualitas yang sangat bagus. Kualitas baik artinya kadar TAR dan nikotinnya cukup tinggi," jelas Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


Suryana diketahui sudah puluhan tahun menggeluti dunia tembakau, terutama proses penanamannya. Sampai akhirnya ia ditunjuk sebagai Ketua APTI.

Lepas dari satu pohon, ia kemudian menghampiri pohon tembakau yang lain. Daun-daun tembakau ia amati satu per satu. Tembakau yang terhampar di lahan seluas 15 hektare (ha) itu sebagian besar memiliki kualitas mumpuni.


"Kalau tembakau bagus begini, mungkin harganya lumayan. Bisa mencapai Rp165 ribu per kilogram (kg). Alhamdulilah, tembakaunya kualitas tinggi," jelas dia.

Bukan sesuatu yang umum bagi Tembakau untuk diasosiasikan dengan nama besar Bandung. Namun, sejak berpuluh tahun, bahkan sebelum Indonesia merdeka, tembakau sangat berkaitan erat dengan sejarah dan mata pencaharian warga Kabupaten Bandung.

Suryana berkisah, bibit tembakau di desa Pamujaan berasal dari negara bagian Virginia, Amerika Serikat. Kala Indonesia masih di bawah ketiak persekutuan dagang Belanda bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), bibit dibawa langsung ke Bandung, dan sukses berkembang biak di Tanah Priangan.

Namun, kondisi topografi dengan ketinggian 650 meter hingga 900 meter disertai cuaca Bandung membuat tembakau ini unik dibanding yang lain.

Tembakau Bandung, lanjutnya, adalah satu-satunya tembakau yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan pasar. Tembakau yang berwarna dasar putih ini bisa disulap menjadi tembakau hijau, kuning, merah, dan cokelat.


Bahkan, untuk tembakau yang tumbuh di luar musimnya, warnanya bisa menjadi tembakau hitam dan dibanderol cukup mahal di pasar. Keunikan tersebut tidak bisa didapatkan oleh tembakau lain di Indonesia.

"Secara kualitas, tembakau Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Di antara seluruh tembakau Indonesia, tembakau Bandung adalah yang terbaik. Bisa dikatakan tembakau Bandung itu top of the top tembakau dunia," jelas dia.

Tak heran, tembakau Bandung ini kemudian tersohor di luar negeri. Suryana bilang, peminat tembakau Bandung dulunya baru sebatas masyarakat Belanda. Namun belakangan, banyak warga dari negara lain rela menempuh perjalanan hingga ribuan mil hanya untuk mendapatkan tembakau tersebut.

"Bukannya kami mau sombong, tapi selama satu bulan terakhir ada orang dari Italia dan Turki ingin memesan tembakau dari Bandung dengan jumlah pesanan masing-masing 22 ton per bulan dan 18 ton per bulan. Sebelumnya juga ada Malaysia dan Brunei juga datang," jelasnya.

Hanya saja, permintaan warga asing itu tak dapat dipenuhi. Pasalnya, produksi tembakau Bandung sangat sedikit. Dalam setahun, Kabupaten Bandung hanya memproduksi sekitar 6.881 ton dari lahan seluas 1.524 hektare (ha). Seluruhnya, lanjut Suryana, habis digunakan untuk konsumsi dalam negeri.


Khusus di dalam negeri, tembakau digunakan untuk konsumsi langsung, produk lintingan, hingga dijual ke pabrik rokok. Petani jarang menjual ke pabrik rokok lantaran produsen meminta harga yang murah, yakni Rp36 ribu per kg. Padahal, harga tembakau Bandung bisa dibanderol lebih tinggi dari Rp100 ribu per kg.

Bahkan, produksi tembakau Jawa Barat tak mampu memenuhi permintaan di wilayah tersebut. Setiap tahun, kebutuhan tembakau di Jawa Barat tercatat mencapai 138 ribu ton, namun baru bisa dipenuhi secara lokal 12 ribu ton saja dari wilayah tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan, Jawa Barat sampai harus mendatangkan tembakau dari Temanggung sebesar 90 ribu ton, Nusa Tenggara Barat (NTB) sekira 20 ribu ton, dan 16 ribu ton sisanya dari daerah lain.

Salah satu kendalanya adalah keterbatasan lahan. Tembakau Bandung tidak bisa diproduksi secara massal lantaran terjadi alih fungsi lahan di mana-mana. Suryana prihatin dengan potensi ekspor unggulan di depan mata harus pupus lantaran tak bisa diproduksi dalam jumlah banyak.

"Tembakau Bandung itu memang sudah tersohor akan kualitasnya, namun akan lebih baik jika seluruh dunia tahu mengenai tembakau sini," ujar dia.


Selain itu, pintu ekspor yang menganga lebar juga bisa memperbaiki taraf hidup masyarakat yang menggantungkan hidup dari tembakau ini. Saat ini, terdapat 3.000 masyarakat yang masih konsisten mencari cuan dari budidaya tembakau.

"Jangan bayangkan tenaga kerja di sektor tembakau ini hanya sebatas pada petani saja. Tetapi juga ada orang yang mengolah, merajang, mengemas, hingga industri. Deretan efek pengganda ekonominya cukup banyak, makanya kami bisa bilang tembakau Bandung sebagai salah satu komoditas yang perlu dikedepankan," jelas dia.

Pamor Tembakau Bandung Mesti Pulih

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, perkembangan kinerja ekspor tembakau nasional terpantau melemah. Nilai ekspor tembakau pada 2014 lalu pernah mencapai US$83,2 juta. Namun, angka itu anjlok ke level US$59,1 juta pada tahun berikutnya, dan terus tenggelam hingga ke angka US$50 juta pada 2016.
Hingga tahun lalu, ekspor tembakau Indonesia mulai perlahan membaik ke angka US$67,8 miliar.

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Bandung. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Nursadiah menyadari bahwa data tersebut seharusnya bisa memacu produsen untuk meningkatkan produktivitas tembakau Bandung.

Jika produksi mumpuni, bukan mustahil ekspor tembakau Bandung nanti kembali berjaya. Terlebih, 17 dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung hingga kini masih menghasilkan tembakau.

Salah satu langkah yang dilakukan Pemkab Bandung untuk memantik produktivitas adalah dengan menentukan varietas tembakau yang unggul di Bandung. Varietas unggul, lanjut dia, harus memenuhi kriteria tertentu, yakni produktivitas yang banyak, tahan di segala medan, dan bisa konsisten dengan perubahan cuaca.


Sebagai tahap seleksi awal, pemerintah membuat kontes kecantikan antara beberapa varietas tembakau seperti Himar, Nani Hijau, dan Nani Hijau Lokal. Kemudian. seluruh varietas tembakau ini ditanam di beberapa lokasi di Kabupaten Bandung sejak tahun lalu. Ternyata, dari seleksi tersebut, varietas Himar keluar sebagai juaranya.

"Kami harapkan setelah ada uji multilokasi ini, produktivitas tembakau Bandung bisa tertambah dua kali lipat. Atau tiga kali lipat dari sebelumnya jika perlu. Apalagi ini jenisnya tembakau hitam, sangat mahal harganya secara internasional," tutur Nur.

Ia melanjutkan, uji multilokasi ini pun bisa terselenggara setelah pemkab memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) yang setiap tahun ditransfer oleh pemerintah pusat. Pemkab disebutnya sangat membutuhkan dana tersebut lantaran tidak ada pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bandung yang khsusu ditujukan bagi tembakau.

Di tahun ini, Pemkab Bandung memperoleh DBH CHT sebesar Rp13,43 miliar, di mana sebesar Rp1,9 miliar dialokasikan bagi Dinas Pertanian.

"Dengan ini, kami juga berharap tembakau Bandung juga bisa menjadi unggul di masa depan. Tembakau Bandung bisa menyejahterakan ribuan pekerja yang terdapat di dalamnya," pungkas dia.

[Gambas:Video CNN] (lav)