Sri Mulyani Akui Risiko Ekonomi Global Meningkat

CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 12:15 WIB
Sri Mulyani Akui Risiko Ekonomi Global Meningkat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui kondisi ekonomi dunia melemah dengan risiko yang semakin meningkat. Hal itu tercermin dari indikator yang muncul setelah tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin memanas pada Juli dan Agustus 2019 lalu.

"Seperti trade war (perang dagang) yang memicu pergerakan Yuan China dan membuat seolah-olah trade war sudah beralih jadi perang mata uang," sebut Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN di Jakarta, Senin (16/8).

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump tetap akan menaikkan tarif impor barang-barang dari China, meski hal itu diperkirakan akan mengganggu persiapan libur Natal akhir tahun. Dalam perkembangannya, China pun membalas dengan hal yang sama, menaikkan tarif impor barang asal Negeri Paman Sam.


"Trump terus mengatakan lagi akan balas, ini hanya beberapa hari terakhir saja, tapi buat sentimen dan gejolak," tutur Ani, sapaan akrab Sri Mulyani.

Menurut dia, hampir semua negara melemah, tapi kalau Indonesia bisa tetap di level pertumbuhan ekonomi 5 persen itu merupakan hal yang baik, karena ada risiko penurunan pertumbuhan ekonomi.

"Dari sisi indeks manufaktur sudah turun ke 50 persen ke bawah, ini melemah. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi terus terjadi, termasuk perdagangan internasional. Ini semua indikator yang harus diwaspadai karena akan pengaruhi kondisi di dalam negeri," sebutnya.

Ani berpendapat, hubungan antara AS dan China akan semakin memburuk, dan menjadi kondisi yang harus diwaspadai karena keduanya merupakan ekonomi terbesar di dunia.

Tak hanya manufaktur, harga komoditas pun mengalami pelemahan dan hampir semua indeks saham terus melemah. Pada akhirnya, respons pasar global adalah menurunkan suku bunga acuan.

"Volatilitas ini terdampak ke semua, misalnya indeks (bursa) Dow Jones, pergerakan bond (obligasi) juga. Kalau yang jangka panjang lebih rendah yieldnya itu bisa jadi salah satu indikator yang digunakan untuk membaca resesi," ungkap Ani.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)