Ia bercerita suaminya sempat kehabisan pulsa di telepon genggamnya. Namun, kala itu keluarganya tengah makan di luar dan tidak bisa membeli pulsa.
"Suami saya kehabisan pulsa, mungkin orang pikir 'Kok bisa suami menteri keuangan kehabisan pulsa?' Lalu, saya minta ke anak saya, ini benar istilah 'Mama minta pulsa, tapi kali ini Ayah minta pulsa' ya," cerita Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (23/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar proses pembayaran pungutan negara dari masyarakat dan pelaku usaha bisa cepat masuk ke kantong negara.
"Karena saya menteri keuangan golongan kolonial, saya impress (terkesan) dong dengan kecepatan isi pulsa itu. Besoknya, saya instruksikan ke tim Kementerian Keuangan, 'Kok orang beli pulsa cepat banget?' Lalu saya minta ada pengembangan sistem seperti ini," lanjutnya.
Mulai dari penerimaan perpajakan yang dipungut Direktorat Jenderal Pajak (DJP), bea, cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), hingga penerimaan dari Badan Layanan Umum (BLU) dan royalti yang langsung masuk ke Direktorat Jenderal Anggaran (DJA).
"Saya instruksikan ke Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai, dan Ditjen Anggaran," imbuh dia.
[Gambas:Video CNN]
Kendati sudah mengembangkan sistem, namun Sri Mulyani menyadari bahwa masyarakat tetap perlu diberikan penjelasan dan kepercayaan. Sebab, menurutnya, tanpa kedua hal itu tentu proses pembayaran tetap akan sia-sia karena tidak didukung oleh niat dan pemahaman.
"Saya pikir, orang mau bayar dengan cepat kalau dia tahu manfaatnya dan cepat. Makanya saya selalu jelaskan apa gunanya bayar pajak dan bisa tidak bayar pajak itu secepat bayar pulsa saja?" pungkasnya. (uli/bir)