BI Yakin Ekonomi Amerika Jauh Dari Resesi

CNN Indonesia | Rabu, 28/08/2019 13:35 WIB
BI Yakin Ekonomi Amerika Jauh Dari Resesi BI yakin Amerika Serikat jauh dari resesi ekonomi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih jauh dari resesi. Ramalan dibuat dengan melihat kondisi ekonomi AS sampai saat ini.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti memandang ekonomi AS sampai dengan saat ini masih cukup kuat. Pasalnya, ekonomi mereka masih bisa tumbuh 2,1 persen pada kuartal II 2019 kemarin.

Sebagai gambaran, resesi ekonomi merupakan kondisi di mana perekonomian mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut. "Inflasi AS juga masih terkendali," ujarnya di Jakarta, Rabu (28/8).


Menurut Destry, AS sudah belajar dari krisis keuangan 2008 yang diperparah oleh penurunan gelembung intrumen investasi kala itu.

Saat ini, kondisi sudah berbeda dengan satu dekade lalu. "Bank-bank yang tadinya lebih agresif mengeluarkan produk yang bisa di- leverage dengan tinggi, seperti waktu itu dengan subprime mortgage, sekarang mereka sudah hati-hati," ujarnya.

Meski demikian, BI tetap memperhatikan perkembangan ekonomi AS. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sebagian besar bank sentral di dunia saat ini, seperti BI memiliki kecenderungan kebijakan yang sama yaitu pelonggaran moneter dan ekspansi fiskal.

Jadi, kalau pun terjadi resesi AS, Destry meyakini perekonomian Indonesia akan tahan. Keyakinan tersebut didasari oleh kekuatan pasar domestik Indonesia dengan potensi pengembangan UMKM yang besar serta kelas menengah yang terus tumbuh.

"Satu hal yang membedakan kita (Indonesia) dengan negara-negara lain, taruh lah Singapura atau Malaysia, adalah ekonomi domestik kita kuat," ujarnya.

Dalam hal ini, penopang terbesar perekonomian berasal dari konsumsi domestik yang memiliki porsi sekitar 50 persen. Sementara, peran ekspor dan impor masih relatif kecil, di bawah 20 persen.

[Gambas:Video CNN]
"Berbeda dengan Singapura yang kontribusi ekspor-impornya besar, kita tidak," jelasnya.

Sebuah survei yang dirilis beberapa waktu lalu meramalkan ekonomi AS akan mengalami resesi. Survei dilakukan terhadap ekonom.

Mayoritas ekonom memperkirakan ekonomi AS akan mengalami resesi. Dari 226 responden yang disurvei, 34 persen di antaranya mengatakan resesi akan terjadi pada 2021.

Sementara itu, 38 persen lainnya memperkirakan resesi akan terjadi pada 2020. Hanya dua persen responden yang mengatakan resesi akan terjadi pada 2019 ini.

Tapi survei tersebut dibantah Presiden AS Donald Trump. Ia bersikeras bahwa ekonomi AS sampai saat ini masih cukup kuat dan bagus.

(sfr/agt)