Alasannya, BI optimistis imbal hasil investasi portfolio domestik masih cukup mumpuni.
Sejatinya, penurunan suku bunga acuan akan menurukan imbal hasil investasi portfolio di suatu negara. Ketika imbal hasil turun, maka ada peluang investor mencari instrumen investasi di negara lain yang memiliki imbal hasil lebih baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kami hitung, spread value SBN itu masih ada 5,74 persen setelah penurunan suku bunga acuan ini jadi masih lebih menarik dibanding emerging market yang lain," jelas Perry, Kamis (22/8).
Ia berharap imbal hasil ini masih tetap akan menarik hingga akhir tahun lantaran ia meramal bank sentral AS The Fed tidak akan menurunkan suku bunga acuannya lagi. Di dalam skenario kebijakannya, BI hanya memprediksi penurunan Fed Rate sekali saja, yakni pada Juli lalu.
Lihat juga:BI Pangkas Bunga Acuan ke Level 5,5 Persen |
Hany saja, jika suku bunga acuan turun lagi, maka imbal hasil investasi bisa turun. "Kami memang belum memperhitungkan imbal hasil investasi jika nantinya perlambatan ekonomi AS terjadi lebih dalam lagi," papar dia.
Kemudian, ia juga tidak mengkhawatirkan kenaikan risiko investasi di Indonesia yang tercermin di dalam indikator Credit Default Swap (CDS) yang kini sudah mencapai 92,45 atau meningkat dari posisi Juli lalu yang pernah menyentuh 80. Sebab, menurut dia, kenaikan CDS karena ini disebabkan oleh ketegangan dagang antara AS dan China yang hanya bersifat jangka pendek.
Sekadar, CDS adalah indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN. Semakin besar skor CDS, maka premi risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi, sehingga potensi gagal bayar semakin terbuka. Sebaliknya, jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga makin rendah.
"Meski demikian, inflow masih tetap bagus. Data secara tahun kalender (year-to-date) menunjukkan inflow sebesar Rp176,4 triliun," pungkas dia.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)