Darmin Optimistis Ekonomi RI Tahan Tekanan Perang Dagang

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 16:50 WIB
Darmin Optimistis Ekonomi RI Tahan Tekanan Perang Dagang Darmin optimistis ekonomi Indonesia tahan terhadap tekanan dari perang dagang. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tetap terjaga meski dibayangi ketidakpastian global akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China.

"Sejak awal tahun lalu, ekonomi dunia memang mengalami sejumlah ketidakpastian, gejolak di sana sini terjadi, terutama perang dagang. Kita (Indonesia) sendiri tetap masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi kita," ujar Darmin dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2019 di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat (23/8).

Pernyataan Darmin terkonfirmasi dari kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih terjaga di kisaran 5 persen. Pada kuartal I dan II lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia masing-masing tumbuh 5,07 persen dan 5,05 persen. Namun, kinerja itu masih di bawah target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah, 5,3 persen.


Darmin juga menyorot soal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diiringi oleh perbaikan kualitas. Hal itu tercermin dari tingkat inflasi nasional yang terjaga di level rendah, serta tingkat pengangguran dan kemiskinan yang menurun.

"Bahkan, gini rasio sebagai indikator distribusi pendapatan juga membaik," ucapnya.

Investasi Makin Dilirik
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga mencatatkan peringkat kredit yang semakin baik di tengah gejolak perekonomian dunia. Hal itu, membuat Indonesia makin dilirik sebagai negara tujuan investasi yang tercermin dan meningkatnya nilai kapitalisasi di pasar modal.

"Kita bisa lihat perjalanan pasar modal Indonesia selama 42 tahun sejak diaktifkan kembali pada 5 Agustus 1977 lalu, pada waktu itu kapitalisasi pasar baru sebesar Rp2,73 miliar, setelah 42 tahun, tumbuh 2.500 kali dengan nilai Rp7.173 triliun," paparnya.

Setelah 42 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, kini jumlah investor tercatat menembus satu juta orang, tepatnya pada 15 Agustus 2019 sebanyak 1.049.000 orang.

Untuk mendorong lebih banyak lagi jumlah investor, Darmin menyarankan agar regulator pasar modal Indonesia membuat penyederhanaan kebijakan agar masyarakat lebih mudah mengakses.

Di tempat sama, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menambahkan salah satu inisiatif untuk mendorong peningkatan peran pasar modal adalah melalui penyelenggaraan Capital Market Summit & Expo 2019. Melalui acara itu, OJK bersama lembaga penyelenggara pasar modal memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pasar modal.

Selain itu, ia menambahkan, Kementerian Keuangan juga telah mengubah pengenaan pajak untuk investasi produk reksadana menjadi 15 persen dari 20 persen. Hal itu diharapkan bisa menjadi insentif bagi masyarakat untuk lebih banyak berinvestasi di pasar modal.

"Ke depan masih akan ada lompatan-lompatan lain dengan kebijakan OJK dan Kementerian lainnya untuk memperluas investasi di daerah. Selain itu juga terus mendorong emiten baru mulai dari besar hingga kecil," katanya.
[Gambas:Video CNN] (Antara/sfr)