Bendahara negara mengatakan fokus pembangunan itu terdiri dari lima hal, yaitu penciptaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, penguatan program perlindungan sosial, dan akselerasi pembangunan infrastruktur. Anggaran juga diarahkan untuk birokrasi yang efisien, melayani, dan bebas korupsi, serta untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global.
Pertama, untuk penciptaan SDM yang berkualitas, Sri Mulyani mengalokasi anggaran sebesar Rp638 triliun. Alokasinya akan tersalur ke sektor pendidikan senilai Rp505,8 triliun untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu untuk subsidi yang tepat sasaran dan efektif," tuturnya.
Ketiga, untuk fokus pada akselerasi pembangunan infrastruktur senilai Rp419,2 triliun. Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengatakan alokasi anggaran diberikan dalam rangka meningkatkan daya saing investasi dan ekspor.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, mendukung transformasi industrialisasi, baik dari sisi konektivitas, pangan, energi, dan air. Lalu, untuk mengantisipasi masalah sosial perkotaan, seperti air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan transportasi massa.
"Untuk mendorong kementerian/lembaga agar menggunakan skema pembiayaan kreatif, misalnya Kerja Sama Badan Usaha (KPBU), Viability Gap Fund (BGF), dan Availability Payment (AP)," sambungnya.
Keempat, anggaran senilai Rp261,3 triliun akan dialirkan untuk fokus penciptaan birokrasi yang efisien, melayani, dan bebas korupsi. Alokasinya akan diberikan untuk mendorong efektivitas birokrasi, misalnya menggenjot produktivitas, integritas, dan pelayanan publik.
"Untuk menjaga tingkat kesejahteraan aparatur dan pensiunan serta birokrasi yang berbasis kemajuan ICT," tuturnya.
Anggaran dibutuhkan dalam rangka menciptakan stabilitas ekonomi, keamanan, dan politik. Lalu, untuk penguatan penyanggah fiskal demi fleksibelitas dan sustainabilitas.
"Termasuk untuk memitigasi risiko bencana, pengendalian lingkungan, dan pengembangan energi baru terbarukan," pungkasnya.
Sementara secara keseluruhan, belanja negara akan mencapai Rp2.528,8 triliun pada tahun depan. Sedangkan penerimaan mencapai Rp2.221,5 triliun.
Kekurangan penerimaan untuk belanja akan ditutup dari pembiayaan sebesar Rp307,2 triliun. Salah satunya, pembiayaan utang. (uli/agt)