Bendahara negara menjelaskan proyeksi ini berasal dari realisasi pertumbuhan ekonomi semester I 2019 sebesar 5,06 persen. Sementara pada semester II 2019, ekonomi akan tumbuh mencapai 5,11 persen.
"Total semester II, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,11 persen, yang kalau dibulatkan satu digit sebesar 5,1 persen atau 5,08 persen itu adalah forecasting (sampai akhir tahun). Outlook 5,2 persen masih kami taruh di sana, tapi internal kami lihat 5,08 persen," ujar Sri Mulyani saat rapat bersama Komisi XI DPR, Kamis (29/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, indikator ini bisa mendapat stimulus dari pertumbuhan indikator konsumsi pemerintah. "Kami harap masih ada akselerasi dari belanja pemerintah untuk belanja modal di beberapa kementerian," katanya.
Kemudian, proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,08 persen sampai akhir tahun juga muncul dari perkiraan terhadap laju investasi yang berpotensi membaik. Meski, masih cukup sulit ditebak.
[Gambas:Video CNN]
"Investasi agak tricky diprediksi karena kami lihat semester kedua dengan suku bunga turun dan capital flow yang sudah terjadi. Maka kami harap investasi akan lebih kuat," terangnya.
Sedangkan dari sisi ekspor, Sri Mulyani mengakui memang indikator ini masih akan berada di zona negatif, sehingga memberikan kontribusi yang minim terhadap perekonomian pada paruh kedua. (uli/agt)