Kemenhub soal Bos Taksi Malaysia Hina Gojek: Kita Satu Rumpun

CNN Indonesia | Jumat, 30/08/2019 12:58 WIB
Kemenhub soal Bos Taksi Malaysia Hina Gojek: Kita Satu Rumpun Ilustrasi. (CNN Indonesia/Daniela Dinda).
Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merespons pernyataan kontroversial pemilik perusahaan taksi Big Blue asal Malaysia Datuk Shamsubahrin Ismail terkait penolakan kehadiran Gojek di Malaysia.

Selain menyatakan penolakan, Shamsubahrin juga menyebut pekerjaan sebagai pengemudi ojek online (ojol) itu tidak cocok karena pemuda Malaysia tidak miskin seperti di Indonesia.

Direktur Angkutan dan Multimoda Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Ahmad Yani menilai suatu bangsa hendaknya tidak memberikan pernyataan yang tidak baik hingga menimbulkan kegaduhan.

"Padahal, kami tidak ada mendiskreditkan satu dan yang lain. Saya kira intinya kita satu rumpun, tidak usahlah menjelekkan satu rumpun ini," katanya, Kamis (29/8).


Menurut dia, jika Gojek ditolak, itu merupakan keputusan bisnis Malaysia,  tak terkait dengan Indonesia.

"Kenapa mereka tidak menerima itu alasannya dari mereka tetapi kami masih membutuhkan angkutan antara seperti ojol ini," ujarnya.

Warganet Indonesia sempat tersulut oleh pernyataan Shamsubahri. Pasalnya, ia mengatakan Indonesia adalah negara miskin, sementara Malaysia adalah negara kaya. Pernyataan ini dianggap merendahkan profesi mitra pengemudi dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

"Ini negara miskin, kita negara kaya. Kalau Indonesia anak muda bagus, dia tak keluar, keluar negara untuk cari kerja. Gojek hanya untuk orang miskin seperti di Jakarta," kata Shamsubahrin dalam video itu.
[Gambas:Video CNN]
Setelah video pernyataannya menjadi viral di media sosial, ia pun menerima berbagai hujatan. Akhirnya, ia meminta maaf kepada masyarakat Indonesia dalam sebuah konferensi pers di Malaysia, Rabu (28/8).

"Saya minta maaf atas pernyataan saya yang menyatakan Indonesia miskin. Indonesia selalu di hati saya, termasuk para penduduknya," kata Shamsubahrin dalam jumpa pers di Kuala Lumpur.
(ulf/sfr)