Perang Dagang, China Mengadu ke WTO soal Tarif Impor AS

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 09:42 WIB
Perang Dagang, China Mengadu ke WTO soal Tarif Impor AS Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di perhelatan G-20 di Osaka, Jepang, pertengahan tahun ini. (REUTERS/Kevin Lamarque).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China telah mengadukan persoalan tarif impor yang diterapkan AS kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tarif impor tersebut merupakan buntut perang dagang kedua negara ekonomi terbesar dunia sejak genderang ditabuhkan pada awal tahun lalu.

Mengutip Reuters, Selasa (3/9), AS mulai memberlakukan tarif impor 15 persen untuk barang-barang China, seperti alas kaki, jam tangan pintar, hingga televisi layar datar. Penerapan tarif tersebut berlaku per 1 September 2019.

China pun membalas. Pada saat bersamaan, China mengenak tarif baru untuk minyak mentah AS. Ini merupakan kali pertama bahan bakar menjadi target 'perang dagang' antara AS dengan China.

Kementerian Perdagangan China mengatakan penerapan tarif baru melanggar kesepakatan yang dibahas pemimpin kedua negara dalam pertemuan mereka di Osaka, Jepang. "China akan secara tegas mempertahankan hak-hak hukumnya sesuai dengan aturan WTO," tulis keterangan resmi.

Sebetulnya, gugatan terhadap AS ke WTO bukan kali pertama yang ditempuh China. Tercatat, China pernah menantang tarif impor era Presiden AS Donald Trump itu sebanyak tiga kali.

Namun, Pemerintah AS berpendapat bahwa mereka tengah menghukum China karena pencurian kekayaan intelektual. AS bahkan menuliskan pembelaan tertulisnya yang menyatakan bahwa kedua negara telah sepakat tidak membawa 'perang dagang' ke WTO.

"China telah mengambil keputusan sepihak dan agresif mencuri atau dengan cara tidak adil memperoleh teknologi dari mitra dagangnya, AS," tulis AS.

AS juga membela diri dengan mengatakan bahwa tindakan pemerintahannya tersebut demi melindungi industri di dalam negeri.

WTO sendiri masih memberikan waktu untuk AS mencoba menyelesaikan perselisihannya dengan China. Jika tidak ada kesepakatan, China bisa meminta WTO memfasilitasi ketegangan kedua negara dan proses ini disebut akan memakan waktu beberapa tahun.

Banyak ahli juga mengecam keputusan China yang menyebutnya 'membalas api dengan api.' Diketahui, China bergerak cepat membalas kebijakan tarif Trump dengan rangkaian tarif impor lainnya.
[Gambas:Video CNN]


(bir)