Sebelumnya, Bank Dunia sempat memberi sinyal 'lampu kuning' langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada pekan lalu.
Dalam materi paparan yang beredar di publik, Bank Dunia mencermati risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam dan peningkatan aliran modal keluar.
Bahkan, aliran modal keluar bisa lebih tinggi dari yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti yang sudah saya sampaikan berkali-kali, kami akan waspada melihat perkembangan tersebut. Kami akan perbaiki policy (kebijakan) untuk menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih tumbuh di atas 5 persen," ungkap Sri Mulyani di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (6/9).
Kendati begitu, sambungnya, berbagai sinyal tersebut sejatinya sudah direspons pemerintah melalui pemetaan berbagai kebijakan yang akan diambil. Salah satunya yang sejalan dengan pandangan Bank Dunia, yaitu meningkatkan aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Lebih lanjut, Sri Mulyani memaparkan pemerintah akan memacu investasi dengan penyederhanaan izin, syarat, hingga rekomendasi. Hal ini agar masalah perizinan tidak lagi menjadi batu sandungan bagi masuknya aliran investasi.
Tak ketinggalan, pemerintah juga terus mengupayakan iklim ekonomi yang kondusif, misalnya dengan menjaga tingkat inflasi agar tetap stabil rendah. Lalu, memberikan insentif perpajakan sebagai daya tarik tambahan bagi investor.
Kemudian, pemerintah juga akan melanjutkan pembangunan infrastruktur, pembangunan kualitas sumber daya manusia, dan lainnya. "Capital (modal) kan pada akhirnya akan mencari tempat yang dianggap aman, jadi kalau kami bisa menunjukkan Indonesia adalah tempat yang aman dan baik, maka mereka akan tetap datang ke Indonesia," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)