Hal ini terungkap dari paparan Bank Dunia yang beredar di publik. Materi paparan tersebut telah dipresentasikan di depan Presiden Joko Widodo pada 2 September 2019 lalu.
Bank Dunia mengatakan peran jasa keuangan domestik di dalam mendanai investasi Indonesia masih sangat kecil. Sementara itu, sebagian besar pendanaan investasi di dalam negeri ternyata dibiayai oleh utang luar negeri dan laba ditahan perusahaan, di mana keduanya tidak terpengaruh oleh kebijakan penurunan suku bunga acuan BI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya kebijakan moneter, kebijakan fiskal pun dinilai Bank Dunia kurang efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Bank Dunia berkaca pada target defisit anggaran di dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 sebesar 1,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Hanya saja, Bank Dunia sangsi pemerintah bisa memberikan stimulus fiskal lanjutan lantaran terganjal dua hal. Pertama, adalah penerimaan yang akan mengecewakan akibat melambatnya perekonomian. Kedua, adalah ketidakmampuan pemerintah untuk menambah utang.
Sebelumnya, pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 hanya mencapai 5,08 persen, atau lebih rendah dari target APBN 2019 yakni 5,3 persen. Namun, sejauh ini, pemerintah juga masih optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,3 persen di tahun depan.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)