Pasar Menunggu, Rupiah 'Mogok' di Rp14.035 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 08:45 WIB
Pasar Menunggu, Rupiah 'Mogok' di Rp14.035 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.035 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (10/9) pagi. Posisi rupiah stagnan dibanding penutupan pada Senin (9/9) yang juga ditutup Rp14.035 per dolar AS.

Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti baht Thailand sebesar 0,07 persen, dolar Singapura sebesar 0,09 persen, dan yen Jepang sebesar 0,18 persen.

Namun, terdapat pula mata uang yang menguat terhadap dolar AS seperti peso Filipina sebesar 0,05 persen, won Korea Selatan sebesar 0,07 persen, dan ringgit Malaysia sebesar 0,17 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong terpantau stagnan terhadap dolar AS.

Nilai tukar mata uang negara maju tercatat seperti poundsterling Inggris dan euro melemah terhadap dolar AS dengan nilai masing-masing 0,02 persen dan 0,03 persen. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah sejatinya masih bisa menguat hari ini lantaran pelaku pasar tengah mengantisipasi beberapa peristiwa. Pertama, adalah pertemuan Bank Sentral Eropa yang dijadwalkan Kamis (12/9) mendatang.


Banyak pihak meramal bahwa otoritas moneter Eropa ini akan memberikan stimulus terbaru demi menangani ekonomi Eropa yang tengah lesu.
Pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi Uni Eropa tercatat 0,2 persen atau menyusut setengahnya dibanding kuartal sebelumnya 0,4 persen.

Namun, menurut data yang dirilis Senin (9/9) waktu setempat, ternyata data ekspor Jerman pada Juli membaik ke angka 0,7 persen.
"Data yang dirilis mengenai ekspor Jerman dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi global," jelas Ibrahim, Selasa (10/9).

[Gambas:Video CNN]
Kedua, pelaku pasar juga menanti pertemuan antara AS dan China terkait negosiasi dagang pada Oktober mendatang. Hanya saja, China sudah keburu terpapar perang dagang setelah nilai ekspornya turun 1 persen pada Agustus, atau tidak sesuai dengan ekspektasi yakni bertumbuh 2 persen.

Setidaknya, pelaku pasar masih menaruh harapan pada ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS The Fed setelah Departemen Ketenagakerjaan AS mengumumkan penciptaan lapangan kerja Agustus sebesar 130 ribu orang atau lebih rendah dari ekspektasi.

Di dalam sebuah forum di Zurich pada Jumat (6/9) lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell juga mengatakan bahwa The Fed kemungkinan masih akan melonggarkan kebijakan suku bunga acuannya agar tidak mau kehilangan momentum inflasi.

"Dalam transaksi hari ini, rupiah masih akan menguat ditopang data eksternal dan internal yang masih positif dengan range Rp13.995 hingga Rp14.100 per dolar AS," papar dia. (glh/agt)