Head of Wealth Management and Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan prospek 'cuan' reksa dana saham terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang 'cuma' terkontraksi 0,97 persen pada Agustus lalu. Kinerja ini, katanya, masih jauh lebih baik ketimbang indeks saham utama negara lain, misalnya S&P 500 di bursa saham Amerika Serikat yang melemah 1,81 persen.
Begitu pula bila dibandingkan dengan FTSE di bursa saham Asia Pasifik yang anjlok hingga 2,11 persen. Selain itu, hasil survei melihat bahwa mayoritas nasabah dengan profil risiko yang berharap pertumbuhan (growth) masih mau mempertahankan alokasi saham sebesar 70 persen di dalam portofolio.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5 persen, inflasi stabil di kisaran 3 persen, konsumsi rumah tangga masih tumbuh, dan investasi relatif stabil. Kemudian, ketahanan ekonomi Indonesia dari sisi rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga dinilai tetap kuat.
Lihat juga:Aksi Ambil Untung Diramal Tekan IHSG |
Selain itu, kinerja IHSG juga akan dipengaruhi oleh tren perlambatan ekonomi global yang diproyeksi masih terus terjadi sampai akhir tahun. Begitu pula dengan penurunan harga komoditas di pasar internasional.
"Jadi kuartal I 2019 pertumbuhannya agak rendah dan Juni 2019 juga melambat sedikit makanya kami ada revisi target indeks dari posisi akhir tahun," ucap Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer.
[Gambas:Video CNN] (uli)