AS Geser Arab Saudi Jadi Eksportir Minyak Top Dunia Sementara

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 23:05 WIB
Badan Energi Internasional menyatakan AS sempat menjadi eksportir minyak nomor wahid di dunia pada Juni lalu menggeser posisi Arab Saudi. Ilustrasi minyak. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan Amerika Serikat (AS) sempat menggeser posisi Arab Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia. Di dalam laporannya yang dirilis Rabu (11/9) , IEA menyebut ekspor AS sempat menyalip Arab Saudi pada Juni lalu.

Dikutip dari Reuters, ekspor minyak mentah Arab Saudi turun di tengah tahun lantaran terlanjur berkomitmen untuk memangkas produksinya. Hal ini sejalan dengan komitmen negara-negara anggota organisasi produsen minyak mentah dunia (OPEC) untuk mengurangi produksi 1,2 juta barel per hari sejak 1 Januari 2019.

Sementara itu, di periode yang sama, ekspor Rusia terjun karena salah satu pipa ekspor minyaknya terkontaminasi.

"Meledaknya produksi minyak non-konvensional AS telah merebut posisi Arab Saudi sebagai pemimpin ekspor minyak terbesar dunia pada Juni, setelah ekspor minyak mentah menembus angka di atas 3 juta barel per hari," jelas laporan tersebut, Kamis (12/9).
Selain data ekspor, lembaga yang berkantor pusat di Paris ini menerangkan bahwa pertumbuhan permintaan minyak global bisa menyentuh 1,1 juta barel per hari di tahun ini dan 1,3 juta barel per hari tahun depan. Asal, tidak ada drama berlarut-larut mengenai perang dagang AS dan China serta tensi geopolitik AS dengan Iran kian mereda.

Demi memenuhi permintaan tersebut, IEA juga memprediksi produksi minyak negara-negara non-OPEC akan mencapai 2,3 juta per barel atau meningkat 400 ribu barel per hari dibandingkan tahun ini.

Namun, permintaan minyak dari negara-negara anggota OPEC akan menurun sehingga IEA meminta OPEC untuk mempertimbangkan lagi kebijakan pemangkasan produksinya jika ingin harga minyak dunia berkibar lagi.

"Keseimbangan pasar akan kembali menjadi surplus, sehingga akan membebani harga minyak dunia," imbuh laporan tersebut.


[Gambas:Video CNN] (hns/glh)