Dilansir dari Reuters, Senin, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (6/9) lalu ditutup di level US$61,54 per barel atau menguat 1,8 persen pada minggu lalu. Kenaikan mingguan harga Brent terjadi selama empat pekan berturut-turut.
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 2,6 persen menjadi US$56,52 per barel. Pada Jumat (6/9) lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan The Fed memiliki kewajiban untuk menggunakan instrumennya untuk menopang perekonomian dan itu yang mereka akan lakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah laporan itu dirilis, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2 persen. Namun, harga kembali turun secara perlahan karena kekhawatiran investor terhadap kemungkinan negosiasi dagang antara AS-China bakal membuahkan hasil.
Sengketa dagang yang berlarut antara AS dan China, konsumen minyak terbesar kedua, telah menekan harga minyak. Selain itu, perang dagang juga menekan proyeksi permintaan minyak global. Dalam catatan yang dikutip Reuters, Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak cuma bisa tumbuh 900 ribu barel per hari (bph) pada 2019 dan 2020.
[Gambas:Video CNN]
"Jika tensi perdagangan tereskalasi lebih jauh, permintaan minyak dapat melemah lebih jauh, dan menekan harga lebih rendah," ujar Staunovo.
Staunovo memperkirakan Brent akan diperdagangkan di kisaran US$55 per barel tahun depan. Sejumlah analis lainnya memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak turun menjadi sekitar 1 juta bph dari sebelumnya 1,3 juta bph.
"Ini posisi yang rentan. Kekhawatiran terbesar adalah kekhawatiran terkait pertumbuhan permintaan dan itu merupakan fungsi dari perang dagang (AS-China)," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger.
Kendati demikian, sejak tahun lalu, harga minyak dunia mampu terkerek berkat kesepakatan pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Lebih lanjut, Baker Hughes mencatat perusahaan minyak AS memangkas jumlah rig pengeboran minyak mentah pada pekan lalu menjadi 738 rig, terendah selama hampir dua tahun terakhir. Sebagai catatan, jumlah rig merupakan indikator produksi di masa mendatang.