Mengutip Reuters, Selasa (17/9), serangan itu memangkas produksi minyak mentah Arab Saudi hingga 5,7 barel per hari (bph) atau sekitar 5 persen dari pasokan global dunia.
Tak hanya itu, serangan tersebut juga membatasi kemampuan Arab Saudi untuk menggunakan kapasitas produksi cadangan yang mampu memproduksi lebih dari 2 juta bph untuk kondisi darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, OPEC dan sekutunya (OPEC+) memang tengah menjalankan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta bph. Mengingat mayoritas porsi pemangkasan berasal dari Arab Saudi, pembatalan kebijakan tersebut tidak akan serta merta mengerek pasokan global di saat terjadi gangguan.
Sementara itu, kapasitas cadangan yang dimiliki negara non OPEC hanya sedikit. Sebagai contoh, Rusia hanya memiliki kemampuan untuk menambah produksi sekitar 100.000 hingga 150.000 bph.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan sinyal bakal merelaksasi sanksi Iran usai serangan tersebut.
Kondisi sama juga dialami oleh Venezuela yang saat ini menerima sanksi AS. Tanpa sanksi AS pun, produksi minyak Venezuela kian merosot sejak beberapa tahun terakhir.
Sebenarnya, tanpa serangan ke Arab Saudi, kapasitas cadangan produksi minyak global terus menurun. Konsultan Energy Aspects memperkirakan kapasitas cadangan OPEC akan turun ke bawah 1 juta bph pada kuartal IV 2019 atau separuh dari kapasitas kuartal II 2019, 2 juta bph.
Harapan untuk menutup kekurangan pasokan dari Arab Saudi pun beralih ke AS di mana produksi minyak shale terus menanjak.
Produsen minyak shale dapat memompa minyaknya lebih banyak untuk menahan lonjakan harga. Pasalnya, peningkatan produksi minyak shale dalam dilakukan dalam tempo bulanan, jauh lebih cepat dibandingkan produksi minyak konvensional.
Sayangnya, kemampuan ekspor minyak AS terbatas mengingat pelabuhan minyak di Negeri Paman Sam sudah mendekati kapasitas optimalnya.
IEA sendiri meyakinkan, saat ini, pasokan minyak global masih mencukupi meski produksi minyak Arab Saudi berkurang. Saat terjadi gangguan pasokan yang terduga, sejumlah negara dapat menggunakan cadangan strategisnya. Arab Saudi, AS, dan China memiliki ratusan juta barel minyak sebagai simpanan strategis.
Simpanan tersebut dapat digunakan untuk meredam kenaikan harga. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump yang baru-baru ini menerbitkan izin untuk penggunaan Cadangan Minyak Strategis AS.
Selain itu, IEA juga telah menginstruksikan anggotanya untuk menjaga simpanan minyak strategis di tiap negara setara dengan net impor untuk 90 hari.
Kendati demikian, volatilitas pasar minyak akan meningkat seiring berkurangnya cadangan minyak negara-negara tersebut.
[Gambas:Video CNN]
"Kita (pasar) sangat kelebihan pasokan," ujar Kepala Riset Minyak dan Gas (Migas) JP Morgan untuk Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Christian Malek seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/9).
Menurut ia, gangguan pasokan sebanyak 5 juta bph perlu terjadi selama 5 bulan untuk mengembalikan pasokan minyak mentah global ke rata-rata produksi normal 40 tahun terakhir.