Genjot Properti, Pengembang Minta Bunga Kredit Bank Turun

CNN Indonesia | Minggu, 22/09/2019 06:23 WIB
Genjot Properti, Pengembang Minta Bunga Kredit Bank Turun Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan properti menilai penurunan uang muka alias DP Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar lima persen tak akan berpengaruh signifikan pada usaha mereka tanpa dibarengi penurunan suku bunga kredit bank.

Investor Relations PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Wibisono mengungkapkan masyarakat mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli properti. Selain uang muka yang rendah, suku bunga juga mempengaruhi.

"Yang penting penurunan suku bunga kredit bank," ucap Wibisono kepada CNNIndonesia.com, Jumat (20/9).


Diketahui, Bank Indonesia (BI) memang sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali tahun ini sebesar 75 basis poin dari 6 persen menjadi 5,25 persen. Hanya saja, butuh waktu beberapa bulan untuk perbankan menyesuaikan kebijakan BI.

"Walaupun suku bunga acuan turun, namun tidak diikuti bunga kredit maka tidak akan berpengaruh," tegasnya.

Jika memang bunga kredit perbankan sudah disesuaikan, maka kebijakan penurunan uang muka KPR diprediksi mulai terasa tahun depan. Hal ini lantaran BI baru mengimplementasikan kebijakan itu pada Desember 2019.

"Dengan adanya keringanan KPR tentu akan berdampak baik untuk bisnis properti. Paling cepat tahun depan," jelas Wibisono.

Kendati begitu, ia belum mau berspekulasi mengenai potensi kenaikan penjualan properti pasca penurunan uang muka KPR dan suku bunga acuan BI. Menurutnya, manajemen masih melakukan perhitungan untuk target tahun depan.

[Gambas:Video CNN]
"Kalau tahun depan masih proses hitung. Jadi belum bisa (disebutkan perkiraannya)," kata Wibisono.

Sementara, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk (DILD) Theresia Rustandi menyatakan dampak penurunan uang muka KPR sebesar 5 persen baru dirasakan tiga sampai enam bulan setelah perbankan mengimplementasikan kebijakan BI tersebut.

"Dampak terasa tiga sampai enam bulan, tergantung seberapa cepat surat keputusan diterima bank," ujar Theresia.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan kebijakan BI secara maksimal dengan melakukan pembelian properti ketika aturan sudah diberlakukan. Kendati begitu, manajemen Intiland Development belum bisa menargetkan berapa peningkatan penjualan properti tahun depan.

"Kami masih mengejar target 2019," jelasnya.

Diketahui, perusahaan menargetkan penjualan tahun ini menyentuh Rp2,5 triliun. Angka itu terbilang stagnan dibandingkan dengan perolehan 2018 lalu.

(aud/agt)