REKOMENDASI SAHAM

Saat Tepat Koleksi Saham Bank dari Kebijakan DP Murah

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 07:49 WIB
Saat Tepat Koleksi Saham Bank dari Kebijakan DP Murah Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menurunkan aturan uang muka melalui kebijakan pelonggaran Loan to Value (LTV), baik untuk kredit kendaraan bermotor maupun kredit properti. Penurunan uang muka masing-masing sebesar 5-10 persen untuk kredit otomotif dan 5 persen untuk kredit properti.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut uang muka diturunkan demi merangsang permintaan kredit kendaraan bermotor dan properti. Ketentuan ini akan berlaku efektif mulai 2 Desember 2019 mendatang.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo membenarkan kebijakan makroprudensial akan memberi dampak positif kepada permintaan properti dan kendaraan bermotor. Pasalnya, salah satu pertimbangan mendasar konsumen atawa calon debitur sebelum mengambil kredit adalah uang muka.

Tentu, sektor perbankan menjadi sektor pertama yang mendapat berkah dari kebijakan BI tersebut. Alasannya sederhana, karena perbankan merupakan pemberi kredit, otomotif maupun properti. Jika uang muka turun, kemungkinan permintaan kredit menjadi lebih menggeliat.

Karenanya, ia merekomendasikan empat saham perbankan BUMN, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Saham bank swasta nomor wahid PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga layak dikoleksi.

Dari kelima perbankan tersebut, BRI tercatat paling banyak menggelontorkan kredit pada semester I 2019, sebesar Rp888,32 triliun, tumbuh 11,84 persen dari Rp794,3 triliun pada semester I 2018. Disusul Bank Mandiri sebesar Rp835,1 triliun atau naik 9,52 persen dari Rp762,5 triliun. Lalu, BCA yakni Rp565,23 triliun, tumbuh 11,5 persen dari Rp551,15 triliun.

Lebih lanjut, kredit BNI sebesar Rp539,23 triliun atau tumbuh 20 persen dari Rp457,81 triliun, dan terakhir BTN sebesar Rp251,04 triliun atau meningkat 18,78 persen dari Rp211,35 triliun. "Rata-rata pertumbuhannya bisa mencapai 15 persen secara full year," imbuh Lucky.

Kinerja kredit yang diproyeksi membaik membuat saham-saham perbankan tersebut makin menarik. Ia mengatakan sentimen pelonggaran LTV menjadi katalis positif bagi saham perbankan, sehingga berpotensi menguat.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, seluruh saham perbankan di atas terpantau kompak melemah bersama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun sebesar 0,21 persen ke level 6.231.

Namun, koreksi itu boleh dibilang wajar, sehingga pelaku pasar masih bisa melakukan akumulasi beli. Dalam jangka pendek, saham tersebut diperkirakan kembali bangkit.

Saham BRI tercatat turun 1,42 persen ke level Rp4.160 per saham. Dalam jangka pendek, saham BRI berpeluang menguat dengan target harga Rp4.276.

Sementara itu, saham Bank Mandiri turun 0,35 ke Rp7.075 per saham. Target harga saham Bank Mandiri, yakni Rp7.273. Lalu, saham BNI jatuh cukup dalam 1,61 persen ke Rp7.650 per saham. Target harga saham BNI dalam jangka pendek di posisi Rp7.864.

Saham BCA juga turun 0,66 persen ke Rp29.950 per saham. Target saham BCA di posisi Rp30.7788. Hanya saham BTN yang terpantau tak bergerak di posisi Rp2.260 per saham. Target harga saham BTN di level Rp2.323 dalam jangka pendek.

"Fundamental perusahaan tergolong relatif kuat dan sektor perbankan berada di atas rata-rata pertumbuhan IHSG," tuturnya.

Tak cuma karena kebijakan uang muka murah, saham perbankan juga mendapat berkah dari penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Kamis (19/9) silam.

Analis PT Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan penurunan suku bunga acuan akan diikuti oleh penurunan suku bunga simpanan. Nah, ketika bunga simpanan turun, maka biaya dana (cost of fund) perbankan turut melandai.

Penurunan suku bunga acuan juga bakal direspons industri dengan pemangkasan suku bunga kredit. Ini membutuhkan transmisi lebih lama ketimbang penyesuaian bunga simpanan.
[Gambas:Video CNN]
"Kemungkinan pada kuartal IV ada dampak penurunan yang siginifkan kepada margin cost of fund mereka," jelasnya.

Penurunan suku bunga acuan berdampak signifikan pada BTN dan BCA. Alasannya, BTN unggul pada segmen KPR, sehingga sensitif terhadap suku bunga. Sedangkan BCA memiliki tingkat biaya dana cukup tinggi, yakni 2,02 persen pada paruh pertama tahun ini, naik dari sebelumnya 1,73 persen.

Lirik Saham Properti

Selain saham perbankan, sektor selanjutnya yang mendapatkan imbas positif dari kebijakan uang muka murah adalah sektor properti. Pelonggaran LTV kredit properti diharapkan menjadi stimulus yang dapat menggairahkan kembali permintaan properti.

Kepala Riset Narada Asset Manajemen Kiswoyo Adi Joe mengungkapkan kinerja sektor properti diramalkan mulai pulih tahun depan. Khususnya bagi perusahaan properti yang mengembangkan rumah tapak (landed house), kawasan industri, serta emiten properti yang memiliki lahan di wilayah ibu kota baru.

"Karena ada siklus 10 tahunan, seharusnya tahun 2020 mulai bangkit," tutur dia.

Ia merekomendasikan saham-saham properti, antara lain, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA), serta PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Jika saham-saham perbankan melemah, saham properti tersebut justru mampu terbang serempak pada penutupan perdagangan pekan lalu. Saham Bumi Serpong Damai, salah satunya yang naik 0,71 persen ke Rp1.145.

Kemudian, Surya Semesta Internusa naik 1,31 persen ke Rp775, Ciputra Development naik 0,9 persen ke Rp1.125, dan Agung Podomoro Land meningkat 1,63 persen ke Rp250. Hanya saham Summarecon Agung yang tercatat anjlok 2,06 persen ke Rp1.190.

Dalam jangka pendek, Kiswoyo meyakini sentimen penurunan uang muka mampu memberi angin segar bagi sektor properti. Meskipun, pengaruh jangka menengah hingga panjang sangat bergantung dari kebangkitan sektor ini.

"Lihat saja nanti apakah ada efeknya ke kinerja laporan keuangannya," katanya.

Kendati cuan membayangi sektor perbankan dan properti karena kebijakan penurunan uang muka, tidak demikian halnya dengan sektor otomotif. Sektor ini justru dinilai tidak kecipratan dampaknya secara signifikan.

Desmon mengatakan pasar kendaraan bermotor khususnya di kota besar sudah mencapai titik jenuh. Mengutip data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) penjualan sepeda motor periode Januari-Agustus 2019 mencapai 4.350.158 unit, naik 4,45 persen dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 4.164.558 unit.

Meski tumbuh, ia bilang pertumbuhan penjualan motor dalam lima tahun belakangan mengalami tren penurunan. Kondisi ini berbeda ketika terjadi lonjakan harga komoditas pada periode 2011-2012 yang memicu penjualan motor hingga 10 juta unit per tahun.

Tahun lalu, pertumbuhan penjualan motor tercatat 5,8 persen dari 6.383.111 unit dari 5.886.103 unit di 2017.

Untuk mobil, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil periode Januari-Agustus 2019 660.286 unit turun 13,5 persen dari 763.444 unit. Sementara, penjualan mobil nasional mencapai 1.151.291 unit pada 2018.

"Pelonggaran ini tidak terlalu signifikan dampaknya kepada kendaraan bermotor, tetapi bisa sedikit mendorong penjualan motor. Tetapi, memang pertumbuhannya tidak akan setinggi ketika terjadi booming komoditas," paparnya.

Desmon menjelaskan penjualan kendaraan bermotor memiliki korelasi dengan daya masyarakat. Saat terjadi lonjakan harga komoditas, penjualan kendaraan bermotor di Pulau Kalimantan dan Sulawesi meningkat lantaran penduduknya mayoritas bertumpu pada sektor komoditas.

Karenanya, ketika lonjakan harga komoditas usai, maka ia meyakini pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor pun mulai turun. Oleh sebab itu, ia menargetkan pertumbuhan penjualan kendaraan tahun ini cenderung tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

Namun demikian, ia tetap merekomendasikan saham PT Astra International Tbk (ASII) pada sektor otomotif. Ia memprediksi saham Astra International akan mendapatkan pengaruh positif dari pelonggaran LTV dalam jangka pendek, meski tidak signifikan. Pekan lalu, saham Astra International turun 0,38 persen ke level Rp6.575 per saham.

Menurut dia, perseroan menyadari tren perlambatan penjualan kendaraan, sehingga mulai menggenjot pertumbuhan sektor lainnya. Salah satunya, infrastruktur. Ini merupakan kompensasi dari koreksi sektor otomotif.

Penjualan mobil Astra pada Juli 2019 secara tahunan merosot 19,15 persen atau dari 54.867 unit menjadi 44.357 unit mobil. Namun, secara bulanan perseroan mengantongi pertumbuhan penjualan mobil mencapai 67,13 persen, yaitu dari 26.539 unit pada Juni menjadi 44.357 unit pada Juli.

"Saham Astra International masih bisa direkomendasikan karena memiliki bobot besar ke indeks dan merupakan anggota dari saham LQ45," tandasnya.


(bir)