Ia dan suami bahu membahu membuat adonan kue kacang, memanggangnya, kemudian mengantarkannya sendiri dari satu warung ke warung kopi lainnya. Namun, bukan berarti usaha yang dijalani keduanya tanpa kerikil.
Jatuh bangun dirasakan Rusmiana berkali-kali. Mulai dari kekurangan modal, kecelakaan kerja saat suami mengantar pesanan menggunakan sepeda, hingga kembali ke rumah tanpa mengantongi uang hasil berjualan sepeser pun. Rugi jadi hal yang lumrah bagi Rusmiana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bilang saya Kristen, apa bisa? Saya mau sekali jika bisa dibantu. Saya butuh modal untuk mengembangkan usaha saya, untuk menambah mesin pemanggang, untuk belanja tepung membuat adonan. Ternyata bisa," katanya.
Dengan syarat, Rusmiana harus mengikuti kelas selama lima hari pertama. Di kelas itu, ia diajarkan untuk bermimpi, menyusun cara untuk menggapai mimpi, mengatur keuangan, mendapatkan pelatihan, hingga pendampingan usaha.
Bisnis kue kacang salah satu nasabah BTPN Syariah yang memanfaatkan pembiayaan prasejahtera produktif. (CNN Indonesia/Christine N Nababan). |
Buah kerja keras dan disiplin itu mengantar Rusmiana ke siklus pembiayaan kedua. Usaha kue kacangnya semakin berkembang, kebutuhan modalnya pun meningkat. Ia kembali mengajukan pembiayaan sebesar Rp25 juta. "Sekarang sudah lunas juga. Saya mau ekspansi lagi dan mengajukan pembiayaan ketiga sebesar Rp50 juta," katanya.
Ekspansi usaha yang dilakukan Rusmiana bukan isapan jempol. Saat CNNIndonesia.com berkunjung, ibu dari enam anak itu sudah mengoperasikan usahanya dari pabrik kecil seluas 80 meter persegi.
Di pabrik itu, terdapat lima mesin pemanggang, mesin adonan kue, tumpukan karung isi tepung, loyang kue, dan alat pendukung. Di sebelah pabrik itu, berdiri rumah sederhana tempat Rusmina dan suami tinggal, beserta anak-anaknya.
Lain Rusmiana, lain pula Sarinah (47 tahun). Perempuan pengrajin rotan tersebut justru mengenal BTPN Syariah di saat usahanya sedang terpuruk. Namun, ia mengaku masih bertahan dan bertekun dengan usahanya melalui dukungan pembiayaan prasejahtera produktif.
Ia berkisah usaha rotan yang dilakoninya sejak 26 tahun silam itu tengah terhimpit daya beli masyarakat yang lemah. "Dulu, saya ekspor. Tetapi, banyak pabrik tutup, jadi saya mengincar pasar lokal. Itu pun tidak sebaik dulu. Jadi, sekarang saya bikin hanya kalau ada pesanan masuk, karena tidak ada modalnya,," jelasnya.
Berbekal ajakan tetangga, Sarinah mengenal pembiayaan prasejahtera produktif BTPN Syariah. Dalam satu kelompok dengan peserta lainnya, ia ikut dalam skema pembiayaan tanggung renteng. Pembiayaan ini mengandalkan solidaritas peserta, di mana ketika satu peserta tak mampu membayar, peserta lain akan patungan untuk membantu.
Pembiayaan Prasejahtera
Fauzan Ridha, Business Coach Sumatera VI BTPN Syariah mengklaim banknya menjadi satu-satunya bank yang menyalurkan pembiayaan kepada perempuan prasejahtera produktif. Pembiayaan syariah dengan sistem tanggung renteng untuk membentuk jiwa solidaritas sesama perempuan prasejahtera.
"Mereka tidak hanya mendapatkan fasilitas pembiayaan mulai dari Rp2 juta-Rp100 juta, tetapi juga disiapkan membangun perilaku unggul untuk memiliki usaha," imbuh Fauzan.
Direktur BTPN Syariah Gatot Adhi Prasetyo mengungkapkan pembiayaan prasejahtera produktif yang ditawarkan perusahaan fokus kepada pemberdayaan perempuan, termasuk 97 persen bankir pemberdaya dari tingkat terbawah yang merupakan perempuan.
Dari total 12 ribu karyawan BTPN Syariah, di antaranya 10 ribu karyawan merupakan tenaga lapangan yang melayani pembiayaan kepada perempuan-perempuan prasejahtera produktif.
"Mereka ini yang menjadi ujung tombak bisnis pembiayaan prasejahtera produktif. Mereka yang melakukan pendampingan, membentuk kelompok dan mengawasinya, termasuk menjemput cicilan para perempuan prasejahtera," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (asa)
Bisnis kue kacang salah satu nasabah BTPN Syariah yang memanfaatkan pembiayaan prasejahtera produktif. (CNN Indonesia/Christine N Nababan).