Kemarin, 18 Jadwal Terbang di Palembang Batal Karena Karhutla

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 08:23 WIB
Kemarin, 18 Jadwal Terbang di Palembang Batal Karena Karhutla Ilustrasi asap karhutla di Palembang. (ANTARA FOTO/Rendhik Andika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 18 jadwal penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Pelambang, Sumatera Selatan, terpaksa ditunda karena pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Executive General Manager Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Fahroji menuturkan penerbangan tertunda akibat jarak pandang di bandara setempat hanya tersisa 200 meter. Jarak pandang ini terpendek sejak asap menyelimuti Kota Palembang dalam tiga pekan terakhir.

"Minggu (22/9), pukul 05.00 WIB jarak pandang masih 800 meter (aman). Lalu, pukul 06.00 WIB turun menjadi hanya 200 meter. Normal kembali pukul 08.00 WIB, yakni 2.500 meter," ujarnya, seperti dilansir Antara, Senin (23/9).

18 jadwal terbang yang ditunda terdiri dari tujuh jadwal kedatangan dan 11 jadwal keberangkatan. Selain itu, terdapat satu penerbangan yang terpaksa mendarat di Palembang, setelah dialihkan karena tidak bisa mendarat di Jambi akibat tebalnya asap karhutla.

Di antara jadwal terbang yang tertunda adalah penerbangan oleh maskapai Garuda Indonesia rute Bandara Soekarno Hatta-Palembang. Pada rute tersebut, pesawat seharusnya tiba pukul 06.45 WIB, namun baru dapat mendarat di Palembang pukul 09.32 WIB atau terlambat 167 menit.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Bambang Beny Setiaji menyebut asap karhutla yang menyelimuti Kota Palembang berasal dari sebelah timur-selatan kota, dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen.

"Wilayah yang berkontribusi mengirim asap, yakni SP Padang, Banyu Asin I, Pampangan, SP Padang, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, dan Mesuji," kata Beny.

Kabut asap diindikasikan dengan kelembapan tinggi dengan partikel-partikel basah di udara. Hal ini dikarenakan kondisi langit pada malam hari tanpa awan yang berakibat pada radiasi permukaan bumi lepas keluar atmosfer.

"Akibatnya, suhu di permukaan relatif dingin, yaitu 22-23 derajat celcius, namun pasca matahari terbit, keadaan udara akan relatif labil, sehingga partikel basah (kabut) maupun kering (asap) akan terangkat naik dan jarak panjang menjadi lebih baik," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]


(Antara/bir)