Komentar Trump Tenggelamkan Rupiah Ke Rp14.152 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 16:40 WIB
Kurs rupiah melemah ke posisi Rp14.152 per dolar AS pada Rabu (25/9) sore tertekan pernyataan Presiden AS Donald Trump soal China di Majelis Umum PBB. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp14.152 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (25/9) sore. Artinya, kurs rupiah sore ini melemah 0,27 persen dibanding penutupan pada Selasa (24/9) yakni Rp14.114 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.134 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.099 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.120 hingga Rp14.155 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,01 persen, dolar Singapura 0,02 persen, dan baht Thailand 0,06 persen.


Kemudian, ringgit Malaysia 0,06 persen, rupee India 0,12 persen,peso Filipina 0,19 persen, dan won Korea Selatan 0,23 persen.

Di kawasan Asia, hanya dolar Hong Kong dan yuan China yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai penguatan masing-masing 0,01 persen dan 0,02 persen.

Pelemahan juga terjadi pada mata uang negara maju seperti dolar Australia yang keok sebesar 0,1 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris 0,11 persen, euro 0,11 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah disebabkan oleh indeks dolar AS yang menguat. Salah satu penyebabnya adalah keluhan yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terkait praktik dagang China di majelis umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (24/9) waktu setempat.

[Gambas:Video CNN]
Trump mengatakan tidak mau menerima kesepakatan buruk dalam negosiasinya dengan China.

Tak hanya itu, pelaku pasar juga mengantisipasi potensi resesi di Eropa. Para pengamat sepakat bahwa resesi akan lebih rentan terjadi di zona Eropa.

"Bahkan, dalam pernyataannya, pemimpin Bank Sentral Eropa menyebut zona Eropa akan menghadapi kemerosotan ekonomi bahkan jauh dari yang sebelumnya diperkirakan," tutur Ibrahim, Rabu (25/9).
(glh/sfr)