Sentimen Perang Dagang Seret Harga Minyak di Awal Pekan

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 07:20 WIB
Sentimen Perang Dagang Seret Harga Minyak di Awal Pekan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (30/9), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi karena kekhawatiran investor terhadap permintaan minyak di tengah memanasnya tensi perang dagang AS dan China.

Mengutip Reuters, Selasa (1/10), harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,8 persen ke level US$60,78 per barel. Pelemahan lebih dalam terjadi pada minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) yang mencapai 3,3 persen ke level US$54,07 per barel.

Sementara, harga minyak berjangka Brent sepanjang kuartal III 2019 anjlok hingga 8,7 persen. Ini merupakan penurunan terburuk sejak kuartal IV 2018 di mana Brent tertekan hingga 35 persen.


Senada, harga minyak mentah berjangka AS WTI juga terpantau turun 7,5 persen selama sembilan bulan pertama tahun ini. Gejolak harga minyak terjadi lantaran perang dagang AS dan China dikhawatirkan memangkas pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak.


China, sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia memperingatkan ketidakstabilan di pasar internasional dari perselisihan negaranya dengan AS. Hal ini diungkapkan setelah Presiden AS Donald Trump berniat menghapus seluruh perusahaan China di bursa saham AS.

"AS dan China masih jauh dari jenis perjanjian apa pun. Di sini ada kekhawatiran terhadap permintaan minyak," ucap Analis Minyak IAF Advisors Kyle Cooper, dikutip Selasa (10/1).

Sementara itu, Saudi Aramco, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arab Saudi mengaku telah mengembalikan kapasitas produksinya sama seperti sebelum serangan terhadap fasilitas minyak pada 14 September 2019 lalu.

Kapasitas produksi minyak milik Saudi Aramco kembali pulih menjadi 11,3 juta barel per hari (bph). Bahkan, manajemen memastikan bahwa kapasitas pada bulan ini akan mencapai 12 juta bph.

"Pengembalian pasokan minyak Arab Saudi yang lebih dari perkiraan ikut membebani harga," Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)