Ekonomi AS Terpuruk, Rupiah Menguat ke Rp14.172 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 16:39 WIB
Ekonomi AS Terpuruk, Rupiah Menguat ke Rp14.172 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.172 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (3/10) sore. Posisi ini menguat 0,17 persen dibanding penutupan pada Rabu (2/10) yakni Rp14.196 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.193 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.207 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.170 per dolar AS hingga Rp14.198 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, yen Jepang menguat 0,07 persen, won Korea Selatan menguat 0,07 persen, dan rupee India menguat 0,08 persen.


Kemudian, ringgit Malaysia menguat 0,17 persen, dolar Singapura menguat 0,17 persen, dan peso Filipina menguat 0,38 persen. Di kawasan Asia, hanya China saja yang melemah terhadap dolar AS dengan nilai 0,36 persen.


Mata uang negara maju tercatat menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,02 persen, euro menguat 0,04 persen, dan dolar Australia menguat 0,23 persen.

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan rupiah terapresiasi setelah data makroekonomi AS yang kian memburuk.

Pertama, laporan dari Institute for Supply Management menunjukkan indeks manufaktur AS ke angka 47,8, yang merupakan level terendah dalam 10 tahun terakhir. Kedua, laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta hanya menambah 135 ribu pekerjaan pada September atau lebih rendah dibanding data Agustus yakni 157 ribu pekerjaan.

"Dan nampaknya pelaku pasar juga melakukan aksi profit taking (ambil untung) menjelang pengumuman data resmi ketenagakerjaan AS pada esok hari," jelas Deddy kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/10).
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, sambung ia, rupiah juga terdorong dari sisi domestik setelah situasi politik dalam negeri kian kondusif lantaran demonstrasi berangsur mereda. Hanya saja, ia menekankan potensi sentimen negatif terhadap rupiah setelah AS menabuh genderang baru perang dagang.

"AS mempersiapkan tarif baru bagi Uni Eropa dan dipastikan berlaku 18 Oktober 2019 ini, jadi mau tak mau ini akan berdampak ke negara emerging," pungkas dia. (glh/sfr)