Salah satu risikonya, pemegang saham harus siap menghadapi risiko keuangan, seperti tidak menerima dividen. Diketahui, empat perusahaan pelat merah akan menjadi pemegang saham Jiwasraya Putra, yakni PT BTN (Persero) Tbk, PT KAI (Persero), PT Pegadaian (Persero), dan PT Telkomsel selaku anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero).
"Kalau perusahaan rugi, pemegang saham tidak akan menerima dividen," katanya kepada CNNIndonesia.com, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, Herris menyebut solusi paling efektif terhadap masalah likuiditas Jiwasraya adalah suntikan modal dari pemegang saham, yaitu Kementerian BUMN. Hal ini diperlukan untuk membantu penguatan likuiditas Jiwasraya.
Pengamat BUMN sekaligus Managing Director Lembaga Management FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai pembentukan Jiwasraya Putra sebagai gagasan bagus di atas kertas. Sebab, Jiwasraya Putra dapat membantu secara langsung aspek ekuitas Jiwasraya melalui jaringan pemasaran dari BUMN yang terlibat.
"Dalam konteks ini aspek compliance perusahaan yang harus dijaga. Ini diharapkan bisa berjalan baik karena pemegang saham sekarang lebih banyak," katanya.
Selain itu, untuk mengembalikan kepercayaan konsumen kepada Jiwasraya, Herris saran agar langkah perbaikan dilakukan sesegera mungkin, termasuk restrukturisasi secara besar-besaran dalam organisasi Jiwasraya.
"Terutama perbaikan soal kepemimpinan dan perbaikan SOP di bidang investasi dan keuangan, serta pemantauan compliance secara lebih efektif," imbuh dia.
"Target operasional paling lambat pada Januari 2020," tandas Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)