Industri Ungkap Alasan Harga Minyak Curah Bisa Murah

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 18:06 WIB
Industri Ungkap Alasan Harga Minyak Curah Bisa Murah Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Minyak goreng curah biasanya dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan minyak goreng dalam kemasan. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi sebagian masyarakat untuk lebih memilih minyak curah untuk menggoreng.

Sebagai gambaran, minyak goreng dalam kemasan biasanya dijual di kisaran Rp11 ribu per liter. Namun, minyak goreng curah bisa dibanderol lebih murah. Bahkan, seorang pedagang gorengan yang ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu menyebut ia membeli minyak goreng curah hanya Rp5 ribu per liter.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menerangkan minyak goreng curah bisa dijual lebih murah karena beberapa faktor.


Pertama, minyak goreng curah tidak memperhitungkan biaya pengemasan. Ia menyebutkan biaya pengemasan bisa mencapai 12 persen dari total seluruh biaya produksi minyak goreng kemasan. Artinya, harga minyak goreng curah setidaknya bisa lebih murah 12 persen dari minyak goreng kemasan.

Penggunaan kemasan plastik ini tak lepas dari sejarah minyak goreng itu sendiri. Tadinya, minyak goreng yang dipasarkan di Indonesia tidak dibuat dari minyak sawit tetapi dari minyak kelapa yang diproduksi oleh industri rumahan yang dikemas dalam plastik.

"Industri rumahan itu tidak ada pengemasan, yang membuat pengemasan itu hanya perusahaan besar seperti Unilever dan Barco yang menggunakan kaleng," jelas Sahat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/10).

Pada 1982, berkembang teknologi pengolahan minyak sawit menjadi minyak goreng. Kemasannya tidak lagi dalam kaleng tetapi beragam mulai dari dalam botol hingga berkembang menjadi kemasan plastik.

"Tetapi, di pasar tradisional dijual berupa curah yang didistribusi dari pabrik, dikirim dalam drum berukuran 180 liter,"katanya.

Drum berisi minyak goreng itu dikirimkan ke agen yang akan mengemasnya kembali dalam jerigen berukuran 10 liter hingga 20 liter. Jerigen itu disalurkan ke pedagang eceran yang menjualnya kepada penjual dalam kemasan plastik.

Kedua, minyak goreng curah biasanya dijual ke pasar tradisional bukan ke pasar modern. Hal ini mempengaruhi biaya distribusi yang lebih murah dibandingkan minyak goreng dalam kemasan.

Ketiga, minyak goreng curah ada yang berasal dari minyak bekas atau jelantah yang disaring dengan zat tertentu. Tak ayal, biaya produksinya jauh lebih murah dibandingkan minyak curah yang berasal dari pabrik langsung.

Biasanya, minyak goreng curah yang harganya tak sampai separuh dari minyak goreng kemasan berasal dari minyak jelantah. "Harga minyak bekas itu Rp2.000 per liter. Kemudian, diolah dengan biaya pengolahan Rp700 per liter," ujarnya.

Padahal, zat-zat pengolah minyak jelantah berbahaya bagi kesehatan. Dalam hal ini, meningkatkan kolesterol dan memicu kanker.

Melihat hal itu, ia mendukung rencana pemerintah untuk melarang penggunaan minyak goreng curah. Terlebih, Indonesia belum ada sistem yang mengawasi perdagangan minyak goreng jelantah.

"Kalau sudah kemasan, merek dagang ada, produsen ada. Kalau curah, siapa yang tahu sumbernya dari mana," tuturnya.

Untuk menghemat biaya produksi minyak goreng dalam kemasan, lanjutnya, produsen bisa bekerja sama dengan agen penjualan menggunakan mesin anjungan minyak goreng higienis otomatis atau disebut juga dengan AMH-o.

Dengan mesin buatan PT Pindad itu, sambung ia, biaya distribusi dan pengemasan bisa lebih efisien karena produsen bisa mengirim dalam bentuk jerigen ukuran 18 hingga 25 liter ke agen penjual. Pengemasan dilakukan secara otomatis menggunakan mesin AMH-o di agen penjual.

Selain itu, menurutnya, konsumen juga tidak perlu khawatir harga minyak goreng akan melesat di pasaran. Pasalnya, pemerintah telah mengatur mengenai harga acuannya. Saat ini, harga acuan minyak kemasan sederhana adalah Rp11.000 ribu per liter.

Lebih lanjut, ia berharap, dengan beralih dari minyak goreng curah ke minyak goreng kemasan, masyarakat bisa lebih hemat dan efisien dalam menggunakan minyak goreng. Sebab, selama ini, banyak minyak goreng yang terbuang karena kebiasaan menggoreng dengan volume minyak goreng yang berlebihan.

"Kebiasaan menggoreng harus tenggelam itu tidak bagus karena kebutuhan minyak goreng itu maksimal hanya 20 persen dari berat bahan yang digoreng untuk membuat matang," terangnya.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/lav)